| 6 Prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah Penulis: Ustadz Agus Suaidi, Gresik Manhaj, 27 Juli 2003, 23:09:21 Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.
Ada enam prinsip utama yang membedakan antara Ahlus Sunnah al Jamaah dan golongan lain.
Pinsip Ahlusunnah yang pertama: Ikhlas dalam Beribadah
Ikhlas menurut arti bahasa: membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’i, ikhlas adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.
Setelah diketahui pengertian ikhlas menurut pengertian syar’i, dapat diambil kesimpulan bahwa orang dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan meninggalkan segala jenis syirik.
Perlu diketahui, bahwa seseorang itu dikatakan bertauhid apabila meyakini dengan mantap tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik. Lalu apa saja tiga jenis tauhid yang harus diyakini?
Tauhid yang pertama: Tauhid Rububiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yang mencipta, yang memberi rezeki dan yang mengatur alam semesta hanya Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tauhid yang kedua: Tauhid Uluhiyyah, maksudnya yakin bahwa yang berhak disembah dan diberikan segala bentuk peribadatan hanyalah Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tauhid yang ketiga: Tauhid Asma’ wa Sifat, maksudnya kita harus yakin bahwa Allah Ta’ala memiliki Nama dan Sifat yang Mulia dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Kita harus meyakini seluruh Nama dan Sifat Allah yang ada di dalam Alquran dan Assunnah apa adanya.
Setelah meyakini ketiga jenis tauhid ini, maka wajib meninggalkan dua jenis syirik yang menjadi musuh bagi orang-orang yang bertauhid.
Syirik yang pertama disebut Syirik Akbar, yaitu syirik yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Syirik jenis ini amat banyak jumlah dan macamnya, di antaranya adalah: meyakini ada yang mencipta dan yang mengatur alam ini selain Allah Ta’ala, meminta rejeki atau jodoh kepada orang yang telah mati atau kepada jin, menolak sebagian atau seluruh Nama dan Sifat Allah Ta’ala dan masih banyak bentuk lainnya.
Syirik yang kedua disebut Syirik Asyghar, yaitu syirik kecil yang tidak menyebabkan pelakunya dikeluarkan dari Islam. Namun dosanya lebih besar daripada dosa zina, dosa mencuri atau kemaksiatan lainnya. Di antara amalan yang termasuk jenis syirik ini adalah riya’ (ingin dilihat oleh orang ketika beribadah), sum’ah (ingin didengar ibadahnya oleh orang lain), bersumpah dengan nama selain Allah, memakai jimat dengan keyakinan bahwa kekuatannya bersumber dari Allah. Untuk yang satu ini bila diyakini bahwa sumber kekuatan itu dari jimatnya, maka sudah termasuk Syirik Akbar. Dan masih banyak lagi macamnya.
Siapa saja yang telah meyakini tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik ini, maka dia telah ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Inilah prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang terus diperjuangkan. Anda bisa melihat, mereka terus berdakwah menegakkan tauhid dan memberantas segala penyakit syirik walaupun banyak kalangan yang menentangnya, mereka memiliki dasar Alquran Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan cara ikhlas dalam melaksanakan agama-Nya dan Hanif (meninggalkan segala jenis syirik) ...”
Pinsip Ahlusunnah yang kedua: Bersatu di atas Alquran dan Assunnah dengan pemahaman salaful ummah
Banyak aktivis Islam yang saat ini menyerukan persatuan umat. Ada yang menggunakan partai sebagai alat pemersatu, ada juga yang menggunakan suku bangsa bahkan ada juga yang menyatukan umat dengan slogan “yang penting muslim”, walaupun keyakinan dan prinsip hidupnya berbeda-beda. Akibatnya terjadi banyak perpecahan di kalangan mereka karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kalaupun secara dhohir mereka bersatu, banyak prinsip Alquran dan Assunnah yang dikorbankan dalam rangka menjaga persatuan antara mereka.
Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki prinsip persatuan yang mantap dan akan terus diperjuangkan. Apa itu? Yaitu bersatu di atas Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman salaful ummah.
Mengapa harus bersatu diatas Alquran dan Assunnah? Karena ini memang perintah dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103: “Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seluruhnya dan jangan kalian berpecah belah ...”
Ibnu Mas’ud radliyallahu ’anhu berkata: “Tali Allah artinya Kitabullah”. (Tafsir Ibnu Jarir dan lainnya)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tinggalkan sesuatu untuk kalian. Bila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik, Al-Hakim dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no: 186)
Bila ada yang berkomentar, “Banyak kelompok yang mengklaim dirinya di atas Alquran dan Assunnah, namun kenapa terjadi perbedaan prinsip dan cara pandang yang menyebabkan mereka terpecah belah?” Untuk menjawab pertanyaan ini cukup mudah, “Karena mereka memahami Alquran dan Assunnah dengan kemampuan akal yang disesuaikan dengan keinginan dan kepentingan kelompoknya”.
Lalu bagaimana seharusnya? Dalam memahami Alquran dan Assunnah wajib merujuk kepada pemahaman dan penjelasan dari Salaful Ummah. Siapa sebenarnya Salaful Ummah itu? Mereka adalah para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang betul-betul paham maksud Al Quran dan Assunnah karena merekalah yang langsung mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mengapa harus sesuai dengan pemahaman mereka, bukankah mereka juga manusia seperti kita? Karena mereka dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka telah diridlai oleh Allah Ta’ala. Di dalam surat At-Taubah ayat 100 disebutkan yang artinya: “Generasi pertama dari kalangan shahabat Muhajirin dan Ashor serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada-Nya”.
Di samping itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan kita untuk mengikuti pemahaman para shahabat. “Sesungguhnya barang siapa yang masih hidup sepeninggalku nanti,ia akan melihat perbedaan prinsip yang banyak sekali, untuk itu wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama itu bid’ah dan setiap bidah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud no: 4607). Inilah prinsip persatuan umat yang harus dijadikan sebagai pegangan.
Barang siapa yang menggunakan cara lain untuk menyatukan umat maka ia akan menuai kegagalan atau mungkin berhasil tetapi bersatu diatas ?kebatilan. Wallahu A’lam.
Prinsip Ahlusunah yang ketiga: Larangan Memberontak dan Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim yang Sah dalam hal yang ma’ruf (benar)
Menggulingkan kekuasaan pemerintah pada saat ini seolah-olah menjadi tujuan kebanyakan orang. Mereka ingin tokoh idolanya menjadi pemegang tampuk kekuasaan, lebih-lebih bila sang penguasa memiliki banyak kelemahan walaupun masih sah dan beragama Islam, mereka berusaha mati-matian untuk menggulingkan dengan mengatasnamakan rakyat dan keadilan. Ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk merebut pangkat dan jabatan dengan cara membela sang penguasa habis-habisan bahkan membenarkan seluruh ucapan dan keputusan walaupun menyimpang jauh dari syari’at Islam. Lalu bagaimana prinsip Al Quran dan Assunnah menurut pemahaman salaful ummah dalam menyikapi sang penguasa ?
Allah berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul dan Ulil Amri (pemimpin/penguasa muslim)...”
Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini sebagai berikut:
“Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, mereka adalah pemimpin negara, hakim atau mufti (ahli fatwa). Karena urusan agama dan dunia tidak akan berjalan dengan baik melainkan dengan cara taat dan tunduk kepada Ulil Amri sebagai wujud taat kepada perintah Allah dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Akan tetapi dengan syarat penguasa tidak memerintah kita untuk berbuat maksiat. Bila diperintah untuk maksiat maka tidak ada ketaatan sedikitpun kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Al-Khaliq. Barangkali inilah rahasia tidak disebutkannya fi’il amr (kata perintah) ketika Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri dan sebaliknya disebutkan fi’il amr ketika memerintah untuk taat kepada Rasul-Nya. Karena beliau hanya memerintah untuk mentaati Allah, sehingga barang siapa yang mentaati beliau sama saja dengan mentaati Allah Ta’ala. Adapun Ulil Amri baru ditaati bila tidak memerintah untuk bermaksiat.”
Dalam hadits shahih disebutkan, dari Ubadah bin Shomit, Radiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengambil janji setia kepada kami, agar kami mendengar dan taat (kepada penguasa) baik dalam keadaan bersemangat atau lesu, dalam keadaan sulit atau mapan meskipun kami dizalimi, dan agar kami tidak menggulingkan kekuasaan lalu beliau bersabda: “Kecuali kalian melihat ada kekufuran yang nyata (pada penguasa) dan kalian memiliki dalil dari Allah dalam masalah tersebut.” (HR. Muslim/1709, Nasa’i dan lainnya)
Dari keterangan Al Quran dan Assunnah inilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah berprinsip bahwa: Wajib bagi kita mentaati penguasa muslim yang sah dalam hal yang ma’ruf (bukan maksiat) dan haram menggulingkan kekuasaannya dengan alasan apapun kecuali memenuhi dua syarat yang telah dijelaskan oleh Syaikh Bin Baz rahimahullah setelah membawakan hadits di atas. Apa dua syarat tersebut?
Syarat pertama: Adanya kekufuran yang nyata pada diri sang penguasa dan kita menemukan dalil syar’i dalam masalah kekufuran tersebut.
Syarat kedua: Adanya kemampuan untuk menyingkirkan penguasa tersebut dengan cara yang tidak menimbulkan madlarat yang lebih besar.
Tanpa kedua syarat ini, maka tidak boleh! (Al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqoh Bainal Hakim wal Mahkum hal. 19)
?Wahai kaum muslimin, kembalilah kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Wallahul musta’an.
Prinsip Ahlusunah yang keempat: Menggapai Kemuliaan dengan Ilmu Syar’i
Kita semua sepakat bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56. Oleh sebab itu, merupakan keharusan bagi kita untuk mengerti, apa yang dimaksud ibadah itu? Apakah ibadah hanya sebatas shalat, puasa, haji atau yang lainnya? Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-’Ubudiyyah halaman 38 menjelaskan bahwa ibadah itu mencakup segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala baik berupa ucapan merupakan perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Setelah kita mengerti makna ibadah, kita wajib mengerti macam-macam ibadah secara terperinci agar kita bisa menunaikan tugas dengan baik dan benar. Dari sini timbul pertanyaan, dari mana kita bisa mengetahui secara rinci macam-macam ibadah yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala? Mampukah akal kita menyimpulkan sendiri perincian tugas ibadah itu?
Untuk mengetahui secara rinci ibadah yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala tidak bisa disimpulkan dengan akal kita, tetapi harus ada petunjuk langsung dari Allah Ta’ala yang menugaskan kita untuk beribadah kepada-Nya. Petunjuk itu bernama Al Quran dan Assunnah yang telah dijelaskan secara rinci oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhu. Singkat kata, wajib bagi kita mempelajari Al Quran dan Assunnah agar kita bisa menunaikan tugas ibadah dengan baik dan benar. Perlu diketahui, bahwa Al Quran dan Assunnah itulah yang disebut Ilmu Syar’i sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma dan lainnya. Lihat “Al-Ilmu Asy-Syar’i” halaman 8-10 karya Abdurrahman Abul Hasan Al-’Aizuri.
Oleh sebab itu, siapa saja yang mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya berarti ia telah menjalankan tugas ibadah dengan baik dan benar, barang siapa yang telah menunaikan tugas ibadah dengan baik, ia layak mendapat kemuliaan dan kehormatan dari Allah Ta’ala. Di dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 disebutkan:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian.”
As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 846 berkata: “Di dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu syar’i, dan buah dari ilmu itu adalah beradab dan beramal atas dasar ilmu tersebut.”
Dalam hadits shahih juga ditegaskan:
“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan, maka Allah jadikan paham agama ini.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah dalam Fathul Bari juz 1 halaman 222 menjelaskan : “Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa orang-orang yang tidak paham agama dan dasar-dasarnya, ia tidak akan mendapat kebaikan sedikitpun”.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami hal ini, untuk itu mereka gigih dan bersemangat untuk mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya dengan baik dan benar, mereka punya prinsip yang mantap dan mengagumkan, yakni Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal, untuk menggapai kemuliaan. Wallahul musta’an.
Prinsip Ahlusunnah yang kelima: Meyakini bahwa Wali Allah Adalah Orang yang Beriman dan Bertakwa
Bila kita amati sejenak keadaan umat, kita akan dapati satu masalah yang sangat memasyarakat di tengah mereka. Adegan-adegan luar biasa yang membuat sebagian orang merasa kagum, ada yang tidak mempan ditusuk senjata tajam, ada yang bisa makan beling seperti makan kerupuk, ada yang tidak penyet digilas mobil, ada yang kepalanya dipenggal lalu bisa langsung sambung dan yang sejenisnya.
Anehnya para penonton yang kebanyakan umat Islam banyak yang memberi gelar kehormatan “WALI ALLAH” kepada para pendekar kebanggaan mereka. Benarkah orang-orang sakti seperti itu disebut Wali Allah? Apa sebenarnya pengertian dan ciri-ciri Wali Allah menurut Al Quran dan As-Sunnah?
Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya :
“Ingatlah, sesungguhnya Wali Allah itu tidak akan takut dan bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa.” (QS. Yunus: 62)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (2/422) menjelaskan: “Allah Ta’ala menyatakan bahwa wali-Nya adalah orang beriman dan bertaqwa, maka siapa saja yang benar-benar bertaqwa maka ia layak disebut wali Allah Ta’ala”.
Di dalam Al Quran banyak disebutkan ciri-ciri Wali Allah, diantaranya adalah :
Ciri pertama: Beriman dan bertaqwa (QS. Yunus : 62)
Ciri kedua: Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (QS. Ali Imran : 31)
Ciri ketiga: Mencintai dan dicintai Allah Ta’ala karena mereka sayang kepada kaum muslimin dan tegas dihadapan orang kafir, mereka berjihad fii sabilillah dan tidak takut celaan apapun. (QS. Al-Maidah : 54)
Di dalam As-Sunnah As-Shohihah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Ar-Riqoq Bab At-Tawadlu’ (7/190) dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan ciri wali Allah, yaitu mereka rajin mengamalkan amalan-amalan sunnah setelah menunaikan amalan wajib.
Lalu, apakah hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu termasuk ciri utama Wali Allah?
Perlu diketahui bahwa hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu ada beberapa jenis:
1. Mu’jizat, terjadi pada nabi dan rasul.
2. Irhash, terjadi pada calon nabi dan rasul.
3. Karamah, terjadi pada wali Allah selain nabi dan rasul.
4. Istidroj atau sihir, terjadi pada wali syaithon.
Dari sini dapat diketahui bahwa Wali Allah itu kadang-kadang diberi hal-hal yang luar biasa dan ini disebut karamah, namun perlu diingat bahwa karamah ini bukan ciri utama Wali Allah dan tidak bisa dipelajari. Adapun adegan-adegan luar biasa yang saat ini semarak di masyarakat lebih condong kepada istidroj atau sihir dengan beberapa alasan :
Alasan pertama, pelakunya tidak memiliki ciri-ciri Wali Allah Ta’ala.
Alasan kedua, hal-hal yang luar biasa yang mereka tampilkan bisa dipelajari, terbukti mereka punya perguruan-perguruan yang mengajarkan seperti itu.
Singkat kata, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa Wali Allah itu adalah orang yang berimana dan bertaqwa baik mendapat karamah maupun tidak, Wallahu A’lam.
Prinsip Ahlusunnah keenam : Mensukseskan Gerakan Tashfiyah (pemurnian) & Tarbiyah (pendidikan)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi dalam kitabnya Fadhlullah As-Shomad (1/17) menyatakan, ada tiga penyebab perpecahan dan kelemahan kaum muslimin saat ini. Pertama: tidak bisa membedakan antara ajaran Islam yang murni dengan ajaran yang disusupkan ke dalam Islam. Kedua: kurang yakin dengan kebenaran Islam. Ketiga: tidak mengamalkan Islam secara utuh.
Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya. Dari Abu Najih Al-’Irbadl bin Sariyah radliyallahu ‘anhu ia bercerita: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kita, nasehat itu membuat hati bergetar: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepertinya nasehat ini adalah nasehat perpisahan, untuk itu berilah kami wasiat!” Maka beliaupun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tetap mendengar dan taat (dalam hal yang baik - pent) walaupun kalian diperintah oleh penguasa dari budak Habsyi. Sesungguhnya, siapa saja di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, pasti melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian untuk tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaurrosyidin yang mendapat petunjuk, peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham (jangan sampai lepas) dan jauhilah perkara-perkara baru yang disusupkan ke dalam agama karena sesungguhnya setiap perkara baru yang disusupkan ke dalam agama itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ nomor: 2546)
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan jelas menyatakan bahwa penyebab perpecahan umat dan kelemahannya adalah tidak bisa membedakan antara sunnah beliau dan bid’ah yang disusupkan ke dalam ajaran agama. Disamping itu beliau juga memberikan solusinya dengan cara berpegang teguh dan mengamalkan sunnah beliau, yakni ajaran Islam yang murni.
Berangkat dari sinilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah berusaha sekuat tenaga untuk mensukseskan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah. Lalu apa yang dimaksud dengan Tashfiyah dan Tarbiyah itu?
Tashfiyah adalah gerakan pemurnian ajaran Islam dengan cara menyingkirkan segala keyakinan, ucapan maupun amalan yang bukan berasal dari Islam. Sedangkan Tarbiyah adalah usaha mendidik generasi muslim dengan ajaran Islam yang murni, yang berdasarkan Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman para Shahabat Radliyallahu ‘anhum ajma’in.
Dalam rangka mensukseskan gerakan ini, Ahlus Sunnah wal Jamaah terus menerus memperingatkan umat dari segala bentuk penyimpangan baik berupa kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan maupun kemaksiatan, di samping itu juga meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik yang ada di kitab-kitab yang tersebar di kalangan umat maupun pernyataan-pernyataan sesat dari para penyesat. Dan yang termasuk program ini adalah memisahkan antara hadits shahih dengan hadits dha’if, ini semua dinilai sebagai amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita semua.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Menyuruh umat untuk mengikuti sunnah dan melarang mereka dari kebid’ahan termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan termasuk amal shaleh yang paling utama”. (Minhajus Sunnah: 5/253)
Semoga dengan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah ini, kaum muslimin sadar dan mau kembali ke agama Islam yang murni sehingga pertolongan Allah turun kepada kita. Wallahul musta’an.
Rujukan:
1. Syarh Al-Ushul As-Sittah, Asy-Syaikh Utsaimin.
2. Tanbih Dzamil Uqul As-Salimah, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri
3. Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, Asy-Syaikh Abdul Malik Ramdloni.
4. At-Tashfiyyah Wat-Tarbiyyah, Asy-Syaikh Ali Hasan
5. Tafsir Al-Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa’di.
6. Qowaid wa Fawaid, Asy-Syaikh Nadlim Muhammad Sulthon.
7. Karamatu Auliya’illah, Al-Imam Al-Lalikai.
8. Al-Furqon Baina Auliya ‘ir rahman wa Auliya’ is syaithan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. |
Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=164
Fasal tentang Bid'ah (2)
01/03/2007
Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :
وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
“Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .
Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.
Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.
Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.
Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.
Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.
Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.
Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.
Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.
--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)
« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print
Komentar:
ANSORY menulis:
Assalamualaikum Wr.Wb.
Mohon pak Kyai atau yang pernah tahu menjelaskan ttg Sholawat Fatih.Saya pernah mendengar dr berbagai sumber bahwa Sholawat Fatih itu Bidah,tapi bagaimana pandangan dari NU (karena saya perlu tahu saya orang NU)
Gin Gin Ginawan menulis:
Memang benar, rata-rata orang-orang yang membid'ahkan itu orang-orang yang baru belajar agama Islam. Hanya baca dari satu buku. Dan biasanya hafalnya hanya beberapa hadis saja dan Juz Amma juga belum tentu hafal apalagi lafal bacaannya. Tapi mereka malah menertawakan dan menginjak-injak ajaran para ulama yang sudah jelas kemampuannya.
Wong Ndeso menulis:
Bapak Ibu Saudara sahabat YTH.
Kalangan anti NU sebaiknya mencoba hidup ditengah tengah masarakat Islam awam di pedalaman. Berdakwahlah di sana dengan cara dan metode SAKLEK anda. Setahun saja, mungkin setelah anda mengalami bersentuhan langsung dengan Muslim NDESO yang awam. Sukar utk menejelaskan...disnini. Masuklah dan laranglah mereka tahlilan, yasinan, atau slametan Jenazah. Mungkin anda pulang MREMPUL......... , dan ke rumah sakit !!!.
Atau paling tidak, jangan lha menghadiri undangan mereka untuk tahlilan atau yasinan atau slametan.... dan perhatikan dirimu esok harinya...!.
Setelah itu, anda akan tahu bagaimana berdakwah dan memberi pencerahan kepada mereka dengan bahasa mereka...Insya Allah.
Ingin masuk DESA !.?.
achmad zulvica menulis:
seluruh internet berisi hujatan dan pem-bid'ah-an terhadap ritual2 keagamaan yang selama ini kita yakini dengan penuh keimanan......
mana komentar dan reaksi dr orang2 yang menjalankan ritual2 tsb untuk menghadapi masalah ini?
ahlussunnah menulis:
إن لكل شيء قلبا, وإن قلب القرآن (يس) , من قرأها فكأنما قرأ القرآن عشر مرات
"Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, sedang hatinya Al-Qur’an adalah Surat Yasin. Barangsiapa yang membacanya, maka seakan-akan ia telah membaca Al-Qur’an sebanyak 10 kali". [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (4/46), dan Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (2/456)] Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat dua rawi hadits yang tertuduh dusta, yaitu: Harun Abu Muhammad, dan Muqotil bin Sulaiman. Karenanya, Ahli Hadits zaman ini, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah- menggolongkannya sebagai hadits palsu dalam kitabnya As-Silsilah Adh-Dho’ifah (no.169).
ini adalah dalil yang sering anda pakai........
wahai kaum muslimin ...kembalilah kepada as-sunnah jika engkau cinta kepada ALLOH...
luqman POLINES semarang menulis:
kampus-kampus di Indonesia sebagian besar telah dikuasai oleh aktivis-aktivis masjid kampus yang mudah sekali menyebarkan paham "BID'AH" mereka. Mudah sekali mereka mengatakan bid'ah kepada sesuatu yang belum tentu salah. Seakan-akan Islam itu agama sempit..!!!
zainal f menulis:
Menaggapi permasalahan mas Mauludi. Jka ada orang mengkeramatkan 3,7,40 dll ,yang salah itu "mengkeramatkannya atau tahlilnya?". Karena banyak orang melarang tahlil hanya gara2 ada efek buruk yg mengitari tahlil itu. Seharusnya yang dilarang itu"mengkeramatkannya hari 3, 7 dst bukan melarang tahlinya. Hal itu sama dengan menjual motor gara2 motor tsb telah dijilat anjing di rodanya,karena takut najis mughaladoh.Motor tdk perlu dijual,kita tinggal bersihkan bekas yang dijilat anjing tsb saja. OK !!!
zainal muslimin menulis:
dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Alim ulama.Saya berpendapat sebaiknya pengertian Bid'ah dikembalikan pada Rasulullah Saw.Misal: NAhwu dulu tidak ada dijaman Rasulullah,tapi bahasa Arab sudah sejak dulu ada dan Ilmu Nahwu ada karena bahasa Arab diteliti.Lah tahlilan ,yasinan,Istighosah kumpul dilapangan,Apakah ada dulu asal
usulnya yang kemudian dilakukan penelitian sehingga lahirlah "Ilmu Tahlilan" dan semacamnya itu???.Jadi dalam masalah ini kalau boleh bersimpul Nafsu atau semangat cinta sunnah yang kita dahulukan!!!.sekian terimakasih
abi_zakia menulis:
"apabila kalian berselisih terhadap sesuatu maka kembalilah kepada ALLAH dan Rosul-Nya" kalo kpd Kyai ya Kyai yang taat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah .....Oke...???
Nurisk menulis:
Wis lah rek! Yen ngibadah sing dadi pertentangan koyo to: tahlilan, mauludan, usholi, nawaitu dibahas sampe kiamat gak bakal mari. Mending sing dadi kontroversial ngono iku di-adohi wae, gak usah ditindakno! Isih okeh ngibadah-ngibadah liyane sing ogak dadi kontroversi.
Tata menulis:
Assalamualaikum Wr, Wb.
Wah jadi tambah bingung nech..., mau ikut yang mana...?, semua merasa dirinya yang paling benar...?, menurut saya yang paling enak mengikuti Rosulluallah saja..., lebih aman..., yang pasti sudah dijamin kebenarannya dari pada menambah-nambah yang belum jelas bid'ah apa tidak, iya kalo tidak bid'ah..., kalo bid'ah bagaimana...?, kalo kita ingin menambah-nambah bentuk ibadah..., apa memangnya kita mau melebihi Rosullullah...?, gak mungkunlah..., karena tidak ada orang yang lebih bertakwa dari pada Rosullullah Muhammad SAW.
Zang menulis:
Semua Ulama' dari kalangan Ahlusunnah mulai dari zaman Sahabat sampai zaman kita sekarang mengingkari segala macam bid'ah, tidak ada bid'ah baik dan buruk dalam agama. Bid'ah baik dan buruk itu ada secara lughowi. Semua bid'ah SESAT dan yang sesat ,maka tempat kembalinya adalah neraka. Dan perlu digaris bawahi kalau NU selalu menggembar-gemborkan bahwa Organisasinya merupakan Ahlusunnah wal jama'ah, tetapi kenapa kalian bersusah payah membuat-buat bid'ah, bukan malah menghidupkan sunnah Nabi yang semakin hari semakin ditinggalkan manusia. Cobalah untuk sedkit berpikir kalau setiap manusia membuat ajaran dan ibadah sendiri tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi dan Para Sahabat, buat apa Allah mengutus Muhammad. Muahammad diutus sebagai suri tauladan yang pasti benar bukan KYAI-KYAI yang mereka tidak paham tentang ilmu hadits.
Cobalah para kyai NU, kalian belajarlah Ilmu hadits dengan para Ulama' Ahlusunnah (bukan Ahlusunnah versi kalian), sehingga kalian betul-betul paham tentang din ini.
rochan menulis:
saya setuju dengan tulisan di atas, hanya saja perlu dipertegas antara ma'na bid'ah lughawiyah dan bid'ah syarak. jika sudah baru masuk pembahasan syarak beserta dalil-dalilnya. sebab menurut pemahaman saya banya saudara kita yang memahami bid'ah syarak sebagaimana bid'ah lughawiyah, sehingga kerapkali membahas bid'ah, argumen yang diajukan hal itu tidak ada di zaman Nabi. padahal pembahasan bid'ah syarak bergantung ada tidaknya dalil syarak (Al-Qur'an, Hadis, ijma', atsar sahabat, Qiyas, dan dasar ijtihad para Fuqaha' termasuk pendapat Fuqaha' bagi orang awam). nuwun
Abdulloh menulis:
Di dalam Islam, asal hukumnya beribadah itu adalah tidak boleh dikerjakan sampai ada dalil yang memerintahkannya dan sebaliknya dalam mu'amalah asal hukumnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya ( bagi yang mengaku sebagai ahlussunnah tentunya paham akan hal ini )
Abdulloh menulis:
Assalamualaikum,
Salam sejahtera utk para kiyai, warga nahdhiyin dan seluruh kaum muslimin dari ahlussunnah wal jamaah.
Saya sangat2 prihatin, kesal, marah terhadap para wahabi yang mengaku salafi ini. Mereka menebarkan kebencian dan menjadi fitnah bagi ahlussunah wal jamaah.
Mohon para kiyai, ulama dari NU segera bertindak, bukan hanya dalam forum2 seminar, diskusi, atau debat. Tapi mungkin juga dengan meluaskan ajaran2 ahlussunnah yang selama ini diajarkan di pesantren2, mushola atau masjid ke wilayah2 pendidikan lain seperti sekolah, universitas dll.
Suatu ide yang bagus jika NU bisa mendirikan universitas.
Untuk para nahdhiyin : Tunjukkan jatidiri anda sebagai ahlussunah wal jamaah. Jangan malu dan ragu dituduh bid'ah. Justru penuduh bid'ah itulah sebenarnya yang cuma membajak dan merusak ahlusunah wal jamaah.
bangsapar menulis:
beda pendapat bisa menjadi haram dan tidak bisa ditolelir ketika dilakukan oleh org bodoh yg tdk menguasai ilmu fiqih, namun berlagak seolah menjadi ahli ilmu fiqih. Lalu mengharamkan dan menghalalkan sesuatu bukan dengan ilmu fiqih, tapi dengan hawa nafsu dan keterbata-bataannya dalam ilmu itu.
Bgmn mgkn seorang mengeluarkan fatwa hukum fiqih, smntr dia tidak prnah bljr ilmu fiqih, ushul fiqih, qawa'id fiqhiyah, ilmu manthiq, balaghah, adab, nahwu, dan lainnya?
Bgmn bisa diterima klaim seorang yg awam terhadap ilmu fiqih bahwa para imam mujtahid yg 4 itu sesat?
Demikian jg perbedaan pendapat diharamkan kalo dilakukan oleh org yg mengaku menjadi ahli hadits, pdhl sbnrnya dirinya tdk pny standar minimal seorang muhaddits. Hny sesumbar seolah2 dirinya satu-satunya ahli hadits di masa skrng ini.
Pdhl satu pun hadits blm pernah diterimanya lewat jalur isnad. Ilmunya sebatas apa yang dibaca di perpustakaan. Pdhl tradisi ilmu hadits dan para muhaddits adlh org yg pny rwyt dlm isnad hadits
aan menulis:
dalam membaca kitab2 / buku2 haruslah diiringi dengan mengaji kepada guru agama, para ulama / orang sholeh yang lebih mumpuni sehingga tidak tersesat... karena kalau kita hanya membaca (belajar sendiri) tanpa adanya guru maka gurunya adalah setan.... dan itu bisa menyesatkan... maka berhati-hatilah dalam hal ini...
Mahrizal menulis:
untuk saudara-saudaraku semua
yang sabar
jangan emosi
di tempat kerjaku juga ada yang nuduh saya bid'ah
dan saat ini saya lagi buat tulisan untukn ya
saudaraku
jangan ngandalin pak kyai
kasihan beliau sibuk dengan urusan umat
kenapa tidak kita saja yang berjuang
berdakwah mengajak saudara kita yang terserst ikut
saudaraku
kalau kita diam saja kita akan kalah
kita harus bergerak
jangan ngandalin pak kyai
saya mengajak semua yang membaca ini
untuk membentuk komunitas ahlus sunnah
mari kita bergerak
hubungi saya di MAHRIZAL_NU@yahoo.co.id
(085921406860)
buat yang ragu masalah yang di atas
silakan baca buku 40 masalah agama (4 jilid) karya KH.Siradjuddin Abbas
disitu lengkap di bahas semuanya
untuk aji dan fahmi :
sebaiknya kalian masuk pesantren agar jelas
saya katakan pada semuanya yg baca:
marilah kita fikirkan dan bandingkan
Ulama - ulama kita para Kyai banyak yang mimpi dengan Rasulullah Saw. seandainya bid'ah tentu tidak akan dianugerahi seperti itu.
raden menulis:
wah dunia memang rame dengan ulur tarik pendapat. kembalikan dengan Al-Quran dan Khadist yang shokhih mas....mbah...
jangan diterjemah dan dimaknai sesuka nafsunya!
kirana romansa menulis:
@ Ahlu sunnah
Sekadar info : Al-bani memang terkenal suka mendhaifkan hadits2 yang menjadi dalil amaliyah yang tidak dia sukai (tawassul etc). Padahal dia sendiri diragukan sanad keilmuannya,karena belajar secara otodidak dan tak pernah menerima satu sanad hadits pun!.Padahal,ilmu hadits adalah displin yang serius dan harus terjaga genealogi kelimuannya (sanadnya gitu lho!)Akibatnya, produk kelimuannya sering kontradiktif, di satu hadits dia menilai seorang rawi dusta tapi di hadits yang lain dia menilai rawi tersebut dpt dipercaya. Tak kurang dari 1400 kali salah penilaian itu dia lakukan. Coba baca bukunya Syeikh Assaqaf yang mendaftar 1400 lebih kesalahan Al-bani.
Kesimpulan: Kalau saya lebih memilih ikut Imam Tirmidzy dan Imam Ad-Daramy serta ribuan ulama lainnya dari dulu sampai sekarang daripada Al-bani, apalagi amit-amit...ikut anda!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah semau anda, tentunya yang sopan dan teratur (tidak menjurus ke maksiatan/kata2 kasar).....!!