Kamis, Juli 08, 2010

KNPI Gandeng KPU Gelar Dialog Pilkada Purworejo 2010

DPD KNPI bersama KPU Purworejo menggelar dialog dan sosialisasi yang diikuti calon kepala daerah Purworejo 2010-2015 di Gedung Wanita Senin (5/7) kemarin. Dari sembilan calon bupati yang diundang, hanya empat pasangan yang bertahan sampai akhir acara.

HENDRI UTOMO, Purworejo
EMPAT peserta dialog yang ikut yakni Akhmad Fauzi yang tidak didampingi wakilnya Supeniwati, Legiman Misdiyono-Harton, Angko Setiyarso Widodo-Sudiyo, dan Yuniarso Kwartono Adi-Zaenal Mustofa. Dialog terkesan monoton dengan tema yang diusung hanya seputar pendidikan dan pertanian. Meski demikian peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat termasuk akademisi nampak setia menunggu hingga akhir acara.
Dalam dialog Akhmad Fauzi menyampaikan persoalan peningkatan sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci pelaksanaan pemerintahan yang efektif dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara bijak.
"Pengoptimalan pelatihan profesi, merupakan upaya yang sangat penting untuk menjembatani sistem pendidikan yang ada dengan kualitas angkatan kerja. Purworejo masih perlu lembaga pelatihan profesi yang berkualitas agar angkatan kerja yang didominasi pemuda mampu menjadi tenaga kerja yang kompeten," katanya.
Sementara pasangan Yuniarso Kwartono Adi-Zaenal Mustofa lebih banyak mengupas kompetensi birokrasi yang dinilai sangat dibutuhkan untuk membangun Purworejo ke depan. "Kaderisasi generasi muda oleh birokrat berpengalaman sangat penting untuk mewujudkan kompetensi birokrasi," ucap Yuniarso.
Zaenal mengatakan pengelolaan pendidikan informal adalah faktor penentu kemajuan daerah. Dengan melontarkan wacana terkait pembatasan siaran televisi di tingkat rumah tangga dan pengaturan usaha warnet di Purworejo.
"Kenyataan saat ini, anak-anak belajar di sekolah hanya setengah hari, sisanya di rumah. Jadi kontrol pendidikan di rumah seperti pembatasan menonton televisi dan usaha warnet perlu dipikirkan, terlebih informasi cenderung tidak terkendali kini juga banyak berpengaruh negatif bagi anak-anak," ucapnya.
Senada, calon bupati Legiman Misdiyono menyatakan lembaga pendidikan perlu menggandeng praktisi profesional untuk meningkatkan kualitas SDM. Contohnya bekerjasama dengan lembaga donor cukup diperlukan untuk meningkatkan siswa didik dalam menghadapi dunia kerja usai menyelesaikan pendidikan di sekolah.
Sedangkan pasangan Angko-Sudiyo lebih menekankan pemberdayaan olahraga dan kesenian tradisional sebagai aspek penguatan generasi muda dan petani. "Menurut kami, pendidikan pertanian sangat dibutuhkan bahkan kalau perlu harus masuk dalam kurikulum semua sekolah di Purworejo. Kami akan berusaha untuk mewujudkan kemandirian petani dan menjadikan Purworejo sebagai kawasan agribisnis yang unggul," tegas Angko.
Ketua Divisi Sosialisasi, KPU Kabupaten Purworejo, Bambang Setyoko secara terpisah mengatakan, dialog yang digelar juga merupakan bagian dari sosialisasi Pilkada Purworejo 2010. "Ini bagus meskipun kampanye secara resmi baru akan dimulai tanggal 15 Juli setelah pemaparan visi misi dan pawai simpatik tanggal 14 Juli 2010 mendatang," ujarnya.
Sumber : (http://www.radarjogja.co.id)

SMA N 7 Purworejo Menerima Lawatan Sekolah MCKK Malaysia

PURWOREJO-Program Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) cukup bermanfaat dalam menjalin kerjasama secara utuh antar sekolah lintas negaraterkait bidang pendidikan dan kebudayaan. Seperti yang namapak terjadi dalam acara lawatan muhibah pendidikan dan kebudayaan yang dilaksanakan SMA N 7 Purworeo dan SMA N 1 Purworejo belum lama ini.


Di Kabupaten Purworejo RSBI disandang dua skolah yakni SMA n & dan SMA N 1 Purworejo. Sejauh ini hibungan kerjasama secara aktual telah terjalin dengan Sekolah menengah Negara Malyasia yakni Malay Colage Kuala Kansar (MCKK) satu sekolah yang berada Negara Bagian Perak, Malaysia.

MCKK merupakan sekolah Boarding School yang siswanya semua laki-laki. Hubungan kerjasama ini bahkan sudah terjalin cukup lama semenjak program RSBI disandang SMA N 7 Purworjo.

"Sudah beberapa kali pihak SMA N 7 maupun SMA N 1 melakukan pertemuan dengan MCKK di Kuala Kansar, Negara Bagian Perak Malaysia. Lawatan muhibah kali ini juga berkat pertemuan sebelumnya dan dengan penandatangan MoU terkait program sister school bidang pendidikan dan kebudayaan ke Purworejo," ungkap Kepala Sekolah SMA N 7 Purworejo, Padmo Sukoco Selasa (4/5) kemarin.

Dikatan Padmo, dalam lawatan kali selain guru juga mengikutsertakan siswa-siswa dari MCKK untuk berkunjung ke SMA N 7 dan SMA N 1 sekaligus melakukan home stay. Lawatan tersebut sudah berlangsung sejak tanggal 27 April - 2 Mei lalu.

Dari MCKK diwakili oleh delapan siswa yang maisng-masing diampu guru, karena ada dua SMA RSBI di Purworejo delapan siswa dibagi menjadi dua yakni empat siswa dan satu guru tinggal di SMA N 1, dan empat siswa 1 orang guru lainnya home stay di SMA N 7 Purworejo .

Paras siwa dari MCKK juga berkesempatan mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas, ber keliling kota Purworejo mengunjungi beberapa tempat penting sepeti melihat Bedug raksasa (pendowo) di Masjid darul Mutaqin Purworejo, kemudian mengunjungi Museom tosan aji dan menyempatkan diri bermain gamelan.

Tidak hanya disitu para siswa dari Malaysian ini juga berkesempatan melihat penangkaran ternak bibit kambing etawa di Dusun, Sibentar, Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesin. "Siswa juga dipandu dari pihak Dinas Peternakan dengan antusias melihat pembibitan kambing etawa ras Kaligesing berjumlah 73 ekor," imbuhnya.

Lawatan MCKK juga menyempatkan menyambangi sentra gula jawa di Desa Harjobinangun, Kecamatan Grabag Purworejo. Dan ditutup dengan bertamasya ke Candi Borodbudur (Magelang) dan ketep pas. Acara penutup dilakukan perhelatan di Gedung Wisma Budaya SMA N 7 Purworejo.

Dalam kesempatan itu, Plt Bupati Purworejo Mahsun Zain didampingi Kketua DPRD Komisi D, Ir Luhur Pambudi, serta Kepala Dinas Pendidikan Drs Bambang Aryawa MM, mengatakan, pemkab Purworejo sangat bangga dan mendukung kegiatan lintas negara ini sebagai bagian diplomasi pendidikan dan budaya yang harus terus dikembangkan.

"Demi meningkatkan hubungan baik kedua negara. Lawatan semacam ini juga bisa membuka kerjasama bilateral khususnya dengan Kabupaten Purworejo untuk menarik investor di beberapa bidang lainnya selain pendidikan dan kebudayaan. Bagus dan perlu dijaga," ucap Mahsun.

Acara pertunjukan dari tiga sekolah yakni dari SMA N 7 Purworejo menampilkan tari Nrenteng besutan Riyanto Purnomo (salah satu alumni SMA N 7) yang sempat menyabet juara I Nasional.

Acara semakin meriah dengan peresembahan musik Serambi Bagelen pimpinan Dandung Danadi, Sementara dari SMA N 1 Purworejo menampilkan vokal group juara II Jateng, tidak mau kalah dari MCKK juga menampilkan tari Zapin Kreasi baru.

Lebih lanjut Padmo Sukoco menjelaskan, kali ini program RSBI benar-benar bisa menjembatani jalinan kerjasama. "Dengan jurnal kegiatan selama di Purworejo yang sudah kita rancang, teman kita dari Malaysia cukup senang. Harapannya kedepan sesuai dengan tema menjalin persahabatan antar bangsa Inodenia -Malaysia menjad lebih baik untuk kemajuan pendidikan dan kebudayaan untuk anak bangsa kita," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Purworejo Drs Bambang Ariyawan MM juga menambahkan, hakekatnya RSBI dilaksanakan untuk mendukung kegiatan dalam memajukan dunia pendidikan yang semakin mengglobal. "Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam dukungan moral maupun material sangat-sangat dibutuhkan," katanya singkat.

Kepala MCKK, Mohammad Rauhi Bin Moh Isa juga mengaku sangat berbahagia dengan penerimaan di SMA N 7 Purworejo. "Ya disini oran-orangnya sangat ramah, sangat kekeluargaan saya berharap hubungan ini terus terjalin hingga masa yang akan datang. Tujuan kita kesini juga untuk memberi pengalaman hidup sebanyk-banyaknya kepada siswa kami untuk menyongsong masa depan, Mereka memang diproyeksikan menjadi pemimpin masa depan Malaysia," terangnya.

Selama tinggal di SMA N 7 Purworejo, keempat siswa dari MCKK tinggal di dua rumah siswa. Dua orang tua asuh itu yakni rumah Drs Joko Sutanto Mpd orang tua dari Abdul Gani Latif siswa SMA N 7 kelas XI IPA 3 ditinggali Mohammad Syafiq Bin Abd Jalil dan Mohammad Rizawan Bin Ramlan.

Sementara dua siswa MCKK lainnya atas nama Amir Norman Bin Moihd hasim dan Mohammad Muhaimin Fitri Bin Mahdzor tinggal di rumah kelaurag bapak Drs Farid Sholokhin Mpd di Pangenrejo orang tua dari Muhammad Rifwqi Zulfikar Kelas X 9. **Red: http://www.radarjogja.co.id/radar-kedu/purworejo/8168-sma-n-7-purworejo-menerima-lawatan-sekolah-mckk-malaysia.html

Jupe Dapat Gelar Setara Bupati

Semenjak mengundurkan diri dalam Calon Pemilihan Bupati di Pacitan, artis Julia Perez atau Jupe mendapat sebuah gelar kebangsawanan dari Kraton Solo. Sebelumnya artis Manohara serta penyanyi Ahmad Dani dan Maia juga pernah mendapatkan gelar dari Kraton Solo.

Dalam upacara budaya yang digelar di Kraton Solo, Rabu (7/6), Jupe mendapatkan gelar Nyi Mas Ayu Tumenggung Yuli Rachmawati. Gelar tersebut menurut budayawan Kraton Solo, Kanjeng Raden Latief, setara dengan bupati. Dan ini selaras dengan keinginan Jupe untuk mencalonkan diri sebagai bupati.

"Setiap tahun kita memilih artis untuk dapat gelar, kadang artis itu sampai minta dilantik gelar 2 sampai tiga kali. Tahun ini hanya Jupe yang baru dapat gelar untuk pertama," ungkap Latief. Selain dikenal sebagai publik figur, Jupe mendapat gelar kehormatan setelah melalui tahap seleksi.

Entah seleksi seperti apa yang diberikan oleh Kraton Solo kepada Jupe dan apa yang membuat dia lolos persyaratannya setidaknya gelar itu bisa mengobati dirinya yang mengundurkan dari pemilihan Calon Bupati. Sumber : http://id.omg.yahoo.com/news/jupe-dapat-gelar-setara-bupati-khjx-0000337056.html & kapanlagi.com

Sabtu, Juli 03, 2010

Senin, Juni 28, 2010

Aliran Janggal Rekening Jenderal

MEMEGANG saku kemeja lengan panjang batiknya, Komisaris Jenderal Ito Sumardi bertanya, "Berapa gaji jenderal bintang tiga seperti saya?" Sambil tersenyum, Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia itu menjawab sendiri pertanyaannya, "Hanya sembilan juta rupiah, sudah termasuk berbagai tunjangan."

Ito menambahkan, Kepala Kepolisian RI, pejabat tertinggi di institusi itu, bergaji hanya sekitar Rp 23 juta, sudah termasuk aneka tunjangan. Buat biaya penanganan kasus, ia melanjutkan, polisi hanya memperoleh anggaran Rp 20 juta per perkara. Setiap kepolisian sektor-unit kepolisian di tingkat kecamatan-hanya diberi anggaran dua perkara per tahun. "Selebihnya harus cari anggaran sendiri," kata Inspektur Jenderal Dikdik Mulyana, Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal, yang mendampingi Ito ketika wawancara dengan Tempo, Jumat pekan lalu.

Bukan sedang mengeluh, Ito menyampaikan "urusan dapur" pejabat kepolisian itu buat menangkis tudingan terhadap sejumlah perwira yang diduga memiliki rekening mencurigakan. Dokumen yang memuat lalu lintas keuangan petinggi Polri itu beredar di tangan para perwira polisi dan jadi bahan gunjingan di Trunojoyo-Markas Besar Kepolisian. Disebut-sebut dokumen itu adalah ringkasan atas laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Soal ini, juru bicara Pusat Pelaporan, Natsir Kongah, tak mau berkomentar. "Saya tidak bisa memberikan konfirmasi karena itu kewenangan penyidik," katanya, Kamis pekan lalu.

Menurut salinan dokumen itu, enam perwira tinggi serta sejumlah perwira menengah melakukan "transaksi yang tidak sesuai profil" alias melampaui gaji bulanan mereka. Transaksi paling besar dilakukan pada rekening milik Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. Pada 2006, melalui rekening pribadi dan rekening anaknya, mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri itu mendapatkan setoran Rp 54 miliar, antara lain, dari sebuah perusahaan properti.

Daftar yang sama memuat, antara lain, nama Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal yang kini ditahan sebagai tersangka kasus korupsi. Ada pula Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Mathius Salempang, mantan Kepala Korps Brigade Mobil Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Inspektur Jenderal Bambang Suparno, Komisaris Besar Edward Syah Pernong, juga Komisaris Umar Leha.

Dimintai konfirmasi soal nama-nama jenderal polisi pemilik rekening itu, Ito Sumardi secara tidak langsung membenarkan. Menurut dia, perwira-perwira itu termasuk dalam daftar 21 perwira pemilik rekening mencurigakan. Ia mengatakan telah menerima perintah Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri buat melakukan klarifikasi terhadap para perwira tersebut. "Ini pembuktian terbalik, jadi menjadi beban mereka untuk menjelaskan asal-usul transaksinya," katanya.

Cerita soal rekening janggal milik jenderal kepolisian juga pernah muncul pada akhir Juli 2005. Ketika itu, 15 petinggi kepolisian diduga memiliki rekening tak wajar. Termuat dalam dokumen yang diserahkan Kepala PPATK Yunus Husein kepada Jenderal Sutanto, Kepala Kepolisian ketika itu, sejumlah petinggi kepolisian diduga menerima aliran dana dalam jumlah besar dan dari sumber yang tak wajar. Sebuah rekening bahkan dikabarkan menampung dana Rp 800 miliar. Namun kasus ini hilang dibawa angin.

l l l

BANGUNAN itu terlihat paling besar dibanding sekitarnya. Terletak di Jalan M. Kahfi I, Jagakarsa, Jakarta Selatan, satu rumah utama, tiga rumah tambahan, plus satu bangunan untuk petugas keamanan berdiri di tanah seluas 3.000 meter persegi.

Di halaman rumah terpajang ukiran berbentuk aksara "B" setinggi dua meter. Air kolam renang yang cukup luas di halaman belakang berkilau memantulkan sinar matahari. Para tetangga menyebut bangunan itu sebagai "rumah Pak Kapolda". Inilah rumah Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, yang pernah menjadi Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Badrodin, yang kini menjabat Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian, adalah satu di antara sejumlah perwira yang melakukan transaksi mencurigakan. Menurut sumber Tempo, Badrodin membeli polis asuransi PT Prudential Life Assurance dengan premi Rp 1,1 miliar. Disebutkan dana tunai pembayaran premi berasal dari pihak ketiga.

Menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Medan pada 2000 hingga 2003, Badrodin juga menarik tunai Rp 700 juta di Bank Central Asia Kantor Cabang Utama Bukit Barisan, Medan, pada Mei 2006. Transaksi ini, kata sumber tadi, dinilai "tidak sesuai profilnya". Sebab, penghasilan Badrodin setiap bulan berkisar Rp 22 juta, terdiri atas Rp 6 juta gaji, Rp 6 juta penghasilan dari bisnis, dan Rp 10 juta dari kegiatan investasi.

Hasil analisis rekening Badrodin juga memuat adanya setoran dana rutin Rp 50 juta setiap bulan pada periode Januari 2004-Juli 2005. Ada pula setoran dana Rp 120-343 juta. Dalam laporan itu disebutkan setoran-setoran tidak memiliki underlying transaction yang jelas.

Dimintai konfirmasi, Badrodin Haiti mengaku tidak berwenang menjawab. "Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Badan Reserse Kriminal," katanya. Komisaris Jenderal Ito Sumardi menyatakan timnya masih menunggu sejumlah dokumen pelengkap dari Badrodin.

Keanehan juga terdapat pada rekening Wenas, Bambang Suparno, Mathius Salempang, dan Susno Duadji serta sejumlah perwira menengah. Indikasi di rekening Wenas muncul pada 2005, ketika ia menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. Pada 9 Agustus, isi rekening Wenas mengalir berpindah Rp 10,007 miliar ke rekening seseorang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Sejak pertama kali membuka rekening, transaksi perbankan Wenas hanya berupa transfer masuk dari pihak lain tanpa ada transaksi usaha (lihat "Rekening dalam Sorotan").

"Profil" Wenas cukup mentereng. Rumahnya di Perumahan Areman Baru, Tugu, mewah, di atas tanah seribu meter persegi. Sejak tiga tahun lalu, keluarga Wenas pindah ke sebuah rumah di Perumahan Pesona Khayangan, Depok. Tempo, yang menyambangi rumah Wenas di perumahan elite di Depok, Kamis pekan lalu, melihat dua Toyota Alphard dan satu sedan Toyota Camry terparkir di halaman rumah.

Kepada Tempo yang mewawancarainya, Wenas menolak tuduhan melakukan transaksi ilegal melalui rekeningnya. "Semua itu tidak benar," katanya. "Dana itu bukan milik saya."

Susno Duadji, yang getol membongkar praktek mafia hukum di institusinya, ternyata juga memiliki transaksi mencurigakan. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri ini disebutkan menerima kiriman dana dari seorang pengacara berinisial JS Rp 2,62 miliar. Ia juga menerima kiriman dana dari seorang pengusaha berinisial AS dan IZM (Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bengkulu). Selama periode 2007-2009, Susno telah menerima kiriman fulus dari tiga orang itu Rp 3,97 miliar. Terkait dengan aliran dana ini, Markas Besar Polri telah menetapkan JS sebagai tersangka.

Muhammad Assegaf, kuasa hukum Susno, menyatakan tidak pernah membahas soal transaksi mencurigakan punya kliennya. Di berbagai kesempatan sebelum ditahan, Susno berkali-kali membantah melakukan transaksi yang melanggar aturan. "Semua transaksi itu perdata," katanya.

l l l

TAK hanya perwira tinggi, transaksi yang membuat mata terbelalak pun dilakukan polisi dengan pangkat di bawahnya. Contohnya Umar Leha, terakhir berpangkat komisaris besar dan pernah 12 tahun bertugas sebagai Kepala Seksi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor Samsat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

Menurut sumber Tempo, Umar pada Juni 2005 memiliki dana Rp 4,5 miliar. Duit disimpan dalam bentuk reksa dana dan deposito di Bank Mandiri. Sumber dana, menurut analisis transaksinya, diduga berasal dari setoran-setoran terkait dengan pengurusan STNK.

Di Makassar, Umar memiliki dua rumah besar dan empat mobil. Dua tahun lalu perwira pertama polisi ini mencalonkan diri dalam pemilihan Bupati Enrekang, Sulawesi Selatan. Untuk itu, ia mengundurkan diri dari kepolisian dengan pangkat terakhir ajun komisaris besar polisi. Pada pemilihan kepala daerah, ia gagal.

Soal tudingan bermain saat masih berdinas, Umar membantahnya. Dia mengaku tidak pernah mengelola langsung uang negara dari pengurusan STNK. "Apalagi mengambilnya," ujarnya. "Saya benar-benar tidak berani menyalahgunakan amanah itu."

Rekening Edward Syah Pernong, Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang, pun mengundang curiga. Menurut sumber Tempo, ketika menjabat Kepala Kepolisian Resor Jakarta Barat, ia menerima setoran Rp 470 juta dan Rp 442 juta pada Agustus dan September 2005 dari Deutsche Bank. Pada 15 September 2005, dia menutup rekening dengan saldo terakhir Rp 5,39 miliar. Edward mempersoalkan asal-usul data itu. "Data itu bohong. Itu fitnah," katanya kepada wartawan Tempo, Sohirin, di Semarang, Kamis pekan lalu. Ito Sumardi menyatakan tak mempersoalkan kekayaan Edward. "Dia raja Lampung, kebun sawitnya luas," kata Ito.

Kendati dibantah dari pelbagai penjuru, anggota Komisi Kepolisian, Adnan Pandupradja, menilai laporan dugaan transaksi mencurigakan harus mendapat perhatian serius dari Kepala Kepolisian. Tanpa kejelasan pengusutan rekening-rekening itu, kata dia, citra kepolisian akan semakin terpuruk.

Neta S. Pane, Ketua Indonesia Police Watch, mendorong upaya pembuktian terbalik dari perwira yang memiliki rekening mencurigakan. Sebab, ia menyatakan jenderal yang memiliki kekayaan melimpah patut dipertanyakan. Ia menambahkan, "Jika hidup hanya dari gaji, sampai kiamat mereka tidak akan pernah bisa kaya."

Ito Sumardi:
Mereka Bukan Penjahat

SEJAK Mei lalu, Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Ito Sumardi punya tambahan pekerjaan. Dia diperintahkan Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri melakukan klarifikasi ihwal dugaan transaksi keuangan mencurigakan di rekening sejumlah perwira polisi. "Kalau sekarang tidak tuntas, pasti isu ini akan muncul lagi, muncul lagi," kata Ito.

Ito menyatakan telah memanggil para perwira yang disebut memiliki transaksi mencurigakan. Mereka diminta menjelaskan asal-usul dana, termasuk melengkapinya dengan dokumen dan bukti. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan, menurut dia, yang pertama kali dipanggil. "Sebab, namanya yang paling awal disebut masyarakat," ujarnya. Sambil menunjuk meja kerjanya, ia berujar, "Dia datang ke situ, saya sendiri yang meminta keterangan."

Yunus Husein, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, menyatakan telah mengirim ribuan analisis transaksi mencurigakan ke kepolisian. Temuan itu ternyata tak pernah ditangani polisi. Pada Mei lalu, Yunus kemudian menemui Kepala Kepolisian membahas soal ini. Satu hal yang dibahas ihwal banyaknya transaksi mencurigakan di rekening sejumlah perwira tinggi polisi.

Setelah pertemuan itulah, Jenderal Bambang memerintahkan Ito dan wakilnya, Inspektur Jenderal Dikdik Mulyana, turun tangan. "Mengapa kami yang diperintahkan?" katanya kepada wartawan Tempo, Budi Setyarso, Setri Yasra, dan Wahyu Dyatmika yang mewawancarainya Jumat pekan lalu. Lalu sambil tertawa ia menjawab pertanyaannya sendiri, "Karena kami tidak termasuk dalam daftar nama yang dicurigai." Dikdik Mulyana, yang menemani Ito selama wawancara dengan Tempo, Jumat pekan lalu, menimpali, "Barangkali belum...."

Sejauh mana hasil penelusuran Anda atas laporan transaksi mencurigakan itu?

Dari ribuan yang disebutkan, ternyata 800 laporan yang bisa ditelusuri. Di antara laporan itu, ada 60-an mengenai rekening perwira polisi. Sudah kami telusuri, dan sekarang tinggal 21 laporan yang belum selesai diklarifikasi.

Kepolisian terkesan defensif menangani soal ini?

Harus Anda pahami, kebanyakan itu data lama, 2003-2005. Rata-rata dua tahun lalu. Misalnya, ada perwira yang disebut dalam laporan masih berpangkat komisaris besar. Padahal dia sekarang sudah jenderal bintang dua. Ada yang sudah purnawirawan, bahkan ada yang sudah meninggal. Ini menyulitkan, karena para pemilik rekening tersebut juga sudah lupa detail transaksi mereka dua-tiga tahun lalu itu. Tolong ini dipahami. Kami tidak bermaksud menutup-nutupi.

Jadi ini laporan lama?

Iya. Laporannya sama dengan yang pernah ramai pada 2005. Ini menyulitkan penyelidikan. Nama-namanya sama, transaksinya sama. Sebenarnya dulu pun sudah ada upaya klarifikasi dari Badan Reserse Kriminal. Namun, karena sistem pendataan kurang rapi, tak tercatat. Sekarang kami diminta Kepala Polri untuk melakukan.

Benarkah dana di rekening para perwira ini bagian dari dana operasional polisi sumbangan pengusaha?

Saya belum tahu ada informasi seperti itu. Soal sumbangan sukarela itu, kan, bergantung pada masing-masing individunya. Kalau ada bantuan, sepanjang itu tidak ada penyalahgunaan wewenang yang mempengaruhi pelaksanaan tugas, boleh saja, kan? Kita harus realistis. Kehidupan polisi jauh dari mencukupi.

Jadi tidak ada masalah?

Saya minta masyarakat tidak prejudice dulu. Sebagian orang berpikir ini laporan transaksi mencurigakan senilai bermiliar-miliar rupiah. Padahal tidak begitu. Misalnya, ada seorang ajun komisaris besar yang menyetor premi asuransi Rp 50 juta. Karena tidak sesuai dengan profilnya-karena gajinya kecil-langsung terdeteksi sebagai transaksi mencurigakan. Begitu diklarifikasi, ya selesai.

Ada indikasi pidana dari 21 laporan transaksi mencurigakan yang masih diperiksa?

Masih ditelusuri. Ada tim penyidik independen. Tapi ingat asas praduga tak bersalah. Mereka bukan penjahat. Semua yang disebut dalam laporan sudah kami undang untuk klarifikasi. Beban pembuktian ada para mereka, karena ini menggunakan asas pembuktian terbalik. Kami minta penjelasan asal dana beserta bukti-buktinya.

Anda beri tenggat sampai kapan?

Mudah-mudahan bulan depan sudah selesai.

Bisa diberi gambaran, kira-kira apa bentuk hasil klarifikasi ini?

Kami akan memberikan penjelasan kepada PPATK. Kalau ada yang mencurigakan, nanti akan ditindaklanjuti. Kalau pemilik rekening yang dicurigai masih berdinas, kami akan melibatkan Divisi Profesi dan Pengamanan.

Relasi Mantan Ajudan

BELASAN pekerja bertopi proyek kuning hilir-mudik. Matahari mulai turun di area pembangunan Apartemen Tamansari Semanggi, tepat di belakang bioskop Planet Hollywood, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu. Para pekerja sibuk membenahi jalur pedestrian. "Baru sebulan terakhir aktif dikerjakan lagi," kata seorang pekerja tersenyum lebar.

Proyek ini mangkrak lebih dari lima tahun. Bernama awal Apartemen Hollywood Residence, proyek itu tak kunjung selesai dibangun. Mei 2007, ratusan pembelinya melapor ke polisi. Mereka menuduh PT Masindo Lintas Pratama, pengembang proyek itu, menggelapkan dana Rp 200 miliar lebih. Ramai diberitakan, Kepolisian Daerah Metro Jaya berjanji menelisik pengaduan itu.

Lama tak terdengar kabar, Masindo menjadi sumber berita baru. Pada November 2006, perusahaan itu dilaporkan menggelontorkan duit Rp 1,5 miliar ke rekening Herviano Widyatama, putra Budi Gunawan, ketika itu Kepala Biro Pembinaan Karyawan Kepolisian. Budi kini berpangkat inspektur jenderal dan menduduki jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Dana itu merupakan bagian dari total setoran senilai sekitar Rp 54 miliar ke rekening Budi Gunawan dan anak lelakinya itu. Indonesia Corruption Watch pekan lalu melaporkan transaksi mencurigakan ini ke Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dan Komisi Pemberantasan Korupsi. "Akan kami tunggu respons mereka sampai 30 hari ke depan," kata Emerson Yuntho, wakil koordinator organisasi antikorupsi itu.

Budi Gunawan bukan satu-satunya perwira kepolisian pemilik rekening yang mencurigakan. Menurut Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ito Sumardi, ada 21 perwira yang melakukan transaksi mencurigakan dan dilaporkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ke Kepolisian. "Atas perintah Kapolri, kami sudah bentuk tim khusus untuk menyelidiki ini," kata Ito, Jumat pekan lalu.

Ito mengakui rekening Budi menjadi prioritas tim penyelidik. Sebab, menurut dia, jumlahnya lebih besar dibanding rekening milik perwira lain. Selain itu, dugaan transaksi di rekening Budi sudah beredar di masyarakat. Itu sebabnya, ia menyatakan Budi merupakan perwira pertama yang dimintai klarifikasi.

Selain Masindo, sebuah perusahaan lain bernama PT Sumber Jaya Indah dilaporkan menyetorkan dana ke rekening Budi Gunawan. Melalui rekening anak Budi, perusahaan itu menggelontorkan hampir Rp 10 miliar.

Sumber Jaya adalah sebuah perusahaan penambang timah yang menguasai 75 hektare lahan tambang di Bangka Belitung. Nama perusahaan sempat jadi berita pada Desember 2007, ketika polisi setempat menyetop 13 truk yang mengangkut timah ilegal milik perusahaan itu. "Saya ingat kasus itu. Penyidikan polisi tidak jelas sampai sekarang," kata Yudho Marhoed, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Indonesia di Bangka Belitung, yang dihubungi pekan lalu.

Dari hasil penelusuran Tempo, kedua perusahaan yang disebut-sebut dalam laporan analisis rekening Budi ini bukan perusahaan fiktif. Sumber Jaya Indah, misalnya, terdaftar resmi di sebuah kantor notaris di Pangkalpinang, sebagai perusahaan pertambangan dengan setoran modal awal Rp 1,5 miliar.

Demikian juga dengan Masindo, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai badan usaha, dengan setoran modal awal Rp 50 miliar. Ketika Tempo mengunjungi alamat kantor Masindo di gedung Sampoerna Strategic Square, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, perusahaan ini tampaknya sudah berganti alamat. "Sudah lama tidak di sini," kata petugas di gedung itu.

Selain dua perusahaan tersebut, ada sejumlah individu yang terdeteksi mentransfer dana ke rekening Budi. Ada juga setoran tunai dalam jumlah miliaran rupiah. Sejumlah sumber Tempo menjelaskan, posisi Budi sebagai ajudan Megawati Soekarnoputri, wakil presiden dan kemudian presiden pada 1999-2004, berperan besar dalam penumpukan harta itu. "Ada banyak pengusaha yang, ketika mau bertemu RI-1, sukarela memberi. Duit Rp 100-200 juta itu kecil buat mereka," katanya.

Diterpa isu tak sedap, lingkaran dalam Budi Gunawan tak mau berpangku tangan. Mereka balik menuding ada agenda tertentu di balik isu ini. "Mengapa Budi Gunawan saja yang dibidik?" kata salah satu orang dekat mantan Kepala Kepolisian Daerah Jambi itu. Dia juga mengaku heran kenapa kabar ini muncul sekarang, ketika fulus yang diributkan, menurut ia, sudah tak ada lagi di rekening Budi.

Dari semua dokumen laporan hasil analisis dari PPATK yang beredar di publik, memang hanya laporan transaksi mencurigakan di rekening Budi Gunawan yang detail dan runut, lengkap dengan kronologi dan data mengenai pihak-pihak yang diduga terlibat. Orang dekat Budi menduga bosnya diincar karena dekat dengan Inspektur Pengawasan Umum Mabes Polri Komisaris Jenderal Nanan Soekarna. Nanan santer disebut-sebut sebagai salah satu kandidat Kepala Kepolisian, menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang akan mengakhiri masa tugasnya, Oktober nanti.

Budi Gunawan memilih tutup mulut. Ditemui Tempo di kantornya, Jumat pekan lalu, dia hanya tersenyum dan berkomentar pendek, "Nanti saja, ya." Belakangan, lewat seorang bawahannya, Budi Gunawan mengaku sudah menyerahkan masalah ini ke Kepala Badan Reserse Kriminal. "Semua berita itu tidak benar," katanya.

Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengakui bahwa Budi Gunawan adalah perwira pertama yang menjelaskan ihwal rekeningnya. "Masih ada bukti-bukti formal yang belum lengkap, karena sudah lama kejadiannya. Tapi prinsipnya, ini sudah clear," katanya. Ditanya soal dua perusahaan penyetor dana yang punya kasus di kepolisian, Ito angkat tangan, "Semua sudah dimintai keterangan. Saya tidak bisa cerita detail karena ini merupakan penyidikan."

Sebagai bekas ajudan presiden, menurut Ito, Budi Gunawan memiliki hubungan luas. Ia menduga para kolega Budi bisa saja memberikan hadiah. Karena tak berkaitan dengan perkara, menurut dia, hal itu tidak ada masalah. Ia lalu menyebutkan "kebaikan" Budi Gunawan. "Anda lihat, gedung Divisi Profesi kini sangat bagus, jauh lebih bagus daripada kantor saya," kata Ito. "Anda tahu siapa yang membangun? Pak Budi Gunawan, dengan dana pribadi."

SUMBER: http://majalah.tempointeraktif.com

Jumat, Juni 18, 2010

Roy: SMS Itu Benar, Tapi Luna Bohongi Saya

Pengacara Luna Maya, Boy Afrian Bonjol, membongkar SMS Roy Suryo kepada kliennya, Luna Maya. Isi SMS itu berisi tiga hal. Intinya, Roy menyatakan akan membantu mendeklarasikan bahwa video porno yang beredar adalah rekayasa.

Dikonfirmasi tentang hal itu, Roy membenarkan pernah berkirim SMS ke Luna Maya. Namun, ia membantah bahwa dialah yang terlebih dahulu menghubungi Luna. "Tidak benar. Dia duluan yang SMS saya. Saat itu saya sedang berada di Belanda," kata Roy saat dihubungi VIVAnews.com, Jumat 18 Juni 2010.

Berikut petikan wawancara dengan politisi Partai Demokrat yang kerap mengklaim sebagai "pakar telematika" itu:

Apa benar Anda pernah berkirim SMS ke Luna Maya?

Benar. Saya telah berkomunikasi kepada yang bersangkutan sejak tanggal 5 Juni, bukan 6 Juni seperti yang dikabarkan. Dia (Luna) mengirimkan SMS ke saya dan minta tolong ke saya agar bilang video itu rekayasa. Dan saya ingin sekali membantu dia.

Apa benar Anda menawarkan untuk declare bahwa video itu rekayasa?

Saat itu saya belum melihat video tersebut, karena saat itu saya masih di Amsterdam. Saya minta nanti saja tanggal 13 Juni kita mau press conference.

Kemudian setelah saya tiba di Indonesia, saya langsung menerima telepon dari petinggi Bareskrim dan meminta tolong ke saya untuk menjelaskan video tersebut. Nah setelah itu, saya baru melihat video tersebut dari bukti yang dipegang polisi.

Saat itu pula saya merasa Luna berbohong menyatakan video itu rekayasa. Tadinya saya kira Luna jujur ke saya menyatakan video itu rekayasa. Setelah melihat video itu, saya nyatakan, video itu asli 100 persen. Tidak mungkin rekayasa.

Jadi Luna berbohong?

Nanti jam 2 siang ini saya akan ke Mabes Polri. Saya akan tunjukkan SMS Luna kepada saya.

http://showbiz.vivanews.com/news/read/158591-roy-suryo--luna-berbohong-ke-saya

Pengacara Ariel-Luna Bongkar SMS Roy Suryo


Pernyataan Roy Suryo kepada wartawan bahwa video seks yang diduga melibatkan Ariel-Luna-Cut Tari adalah memang asli, membuat geram tim kuasa hukum Ariel-Luna. Mereka menganggap pernyataan politisi Partai Demokrat itu sudah berlebihan dan konfrontatif.

Di Markas Besar Kepolisian RI tadi siang, Jumat, 18 Juni 2010, Boy Afrian Bonjol, salah satu tim kuasa hukum Ariel-Luna membeberkan isi sebuah SMS Roy Suryo kepada kliennya, Luna Maya. SMS itu dikirimkan Roy pada 6 Juni 2010, saat ia berada di Amsterdam, Belanda.

Berikut isinya:

"Selamat pagi mbak, maaf kalau sudah istirahat tapi semoga belum dan malah bisa fresh me-reply-nya. Saya di sini jadi kepikiran keras, bagaimana memberikan solusi atas masalah yang sedang berkembang di Indonesia. Kalau mbak setuju saya punya solusinya:

Satu, dalam seminggu ke depan biarkan media dan orang-orang yang sok tahu atau mengaku-ngaku ahli IT berkomentar, mbak keep silent.

Dua, sepulang saya dari Amsterdam minggu depan tanggal 13 Juni kita buat press confrence, dan syukur-syukur malah bertiga, ada mbak, mas Ariel dan saya. Tempat dan waktu diatur saja. Terserah mbak.

Ketiga yang paling penting adalah kita deklarasikan bahwa video tersebut memang palsu alias bukan mbak dan mas Ariel pelakunya. Caranya mbak dan mas Ariel buat testimoni, saya nanti yang menjelaskan detail teknisnya. Selanjutnya kita bersama-sama melapor ke bagian cyber crime krimsus polda metro untuk mencari siapa yang mengedarkan pertama kali. Dan saya membantu rekan-rekan di kepolisian untuk mentrace sampai sejauh mungkin. Meski mungkin sulit menemukan pelakunya. Setuju? Bila oke seminggu ini kita konsolidasi langkah-langkah dan selama saya di Amsterdam mohon di update terus. Insya Allah bisa bermanfaat."


Akan tetapi, menurut Afrian, Luna tidak pernah membalas SMS tersebut. Karena itu, Afrian mempertanyakan urgensi dan motivasi pernyataan Roy selama ini di media. "Itulah sebabnya kami nggak mau menanggapi. Kalau kita lihat perkembangannya sudah tidak bagus," katanya.

Pengacara Ariel-Luna itu mempertanyakan kenapa Roy tidak memberi keterangan di BAP tapi malah membukanya di media. "Ini masalah kesusilaan, buat apa dia ngomong di media? Di sini saya mempertanyakan objektivitas dan profesionalitasnya," kata Afrian.

Setelah membacakan isi SMS tersebut, sang pengacara memberikan pilihan pada wartawan dan masyarakat untuk menilai. "Silahkan tafsirkan sendiri isi dari SMS tersebut," ucapnya.

Dikonfirmasi tentang hal ini, Roy Suryo membenarkan adanya SMS itu. Tapi, menurutnya, itu karena dia semula percaya dengan pernyataan Luna bahwa video itu rekayasa. Wawancara dengan Roy selengkapnya bisa dibaca di sini.
Red: http://showbiz.vivanews.com/news/read/158574-pengacara-ariel-luna-beberkan-sms-roy-suryo

Kamis, Juni 17, 2010

Wow! Miyabi pun Nonton Video 'Ariel'


Video mesum yang diduga pelakunya mirip dengan Nazril Irham (Ariel), Luna Maya, dan Cut Tari, sudah beredar luas secara global. Bahkan bintang porno asal Jepang, Miyabi mengakui kalau dia sudah menontonnya.

Perempuan bernama lengkap Maria Ozawa ini sempat bertanya-tanya tentang topik Peterporn yang sempat menjadi trending topic global di situs microblogging Twitter. "everyone shout! About peterporn.. do you know about him?" ujarnya beberapa waktu lalu, seperti dikutip okezone dari akun twitternya, Rabu (16/6/2010).

Bahkan dia pun mengaku mendapat video peterporn setelah dua hari mencari di dunia maya. "Guys, after 2 day search on the web, today I got the real video of peterporn ," tandasnya pada pukul 11.33 AM, Jumat, 11 Juni 2010.

Meskipun banyak yang bertanya-tanya apa pendapat tentang 'Peterporn', Miyabi keberatan untuk menjawabnya. "So many mentions asking me about peterporn, sorry I cant answer for that, because I have quote "don't judge the book from the cover". lol xD," ujarnya pada 14 Juni 2010, pukul 04.26 AM, seperti dikutip dari status twitternya.

Benar tidaknya, akun twitter ini pernah dipublikasikan di facebook resmi milik Maria Ozawa. Pasalnya, alamat facebook-nya pun pernah dipublikasikan oleh official fanpage Menculik Miyabi.

Maria Ozawa baru join di twitter sejak 31 Mei 2010 lalu. Artis porno Jepang ini juga pernah menjadi kontroversi di Indonesia sejak rencana kedatangannya pada 14 Oktober 2009 silam.

Saat itu, kedatangan Miyabi adalah untuk promosi film pertamanya di Indonesia yang diproduksi oleh Maxima Production. Produser Menculik Miyabi, Ody Mulya Hidayat menandaskan kedatangan Miyabi dibatalkan karena alasan keamanan mengingat pada 20 Oktober ada pelantikan Presiden RI.

Red: http://id.omg.yahoo.com/news/wow-miyabi-pun-nonton-video-39ariel39-zwp4-343430.html

Menkoinfo : Ariel-Luna-Tari Jangan Sembunyi di Balik Pengacara


Peredaran video porno mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari membuat Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, gerah. Ia meminta mereka gentle dengan mengakui video itu sebagai perbuatannya. Hal itu disampaikan Tifatul kepada sejumlah wartawan dalam rapat dengar pendapat dengan Dewan Pers dan KPI dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Rabu (16/6/2010).

Menurut Tifatul, hampir seluruh ahli informasi dan teknologi (IT) menjelaskan bahwa video itu asli dan tidak ada rekayasa. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada Ariel, Luna, dan Tari mengakui agar masyarakat tidak dibuat bingung. Karena video mesum itu berdampak buruk bagi masyarakat luas, khususnya anak-anak.

Ia juga menilai, pengacara itu sesungguhnya tidak tahu benar tidaknya masalah yang sedang merundung ketiga artis itu. "Ketiga artis itu mestinya bersikap gentle dan kooperatif menyelesaikan kasusnya yang kini ditangani Kepolisian. Banyak masalah yang harus diselesaikan. Selama ini mereka cuma omong, coba buktikan kalau tidak bersalah," desak Tifatul. Tifatul juga menyesalkan jika aksi mesum itu dijadikan koleksi pribadi, karena itu bukan barang antik. Sumber: (**** | http://id.omg.yahoo.com/news/menkoinfo--ariellunatari-jangan-sembunyi-di-balik-pengacara-qs6k-2010061702363175.html).

Senin, Juni 14, 2010

Video Seks Mirip Ariel-Luna Go Internasional


Kasus yang membelit penyanyi kondang Nazriel Ilham atau Ariel Peterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari mulai go internasional. New York Times, mengulas kasus tersebut panjang lebar.

"Seperti skandal selebritas lainnya, kasus ini telah mengguncang," tulis Th New York Times dalam artikelnya yang berjudul "Sex Tape Scandal Fixates Indonesia."

Koran paling berpengaruh di Amerika Serikat itu mewawancarai sejumlah pejabat seperti Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Ito Sumardi dan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. Menurut Ito, seperti dikutip koran itu, polisi kemungkinan akan menggunakan undang-undang antipornografi yang sempat menjadi kontroversi saat pembuatannya pada 2008.

Masih kata Ito, "pelakunya bisa dijerat bila sengaja menyebarkan. Kami sedang menguji alibi mereka."

Seperti diberitakan sebelumnya, Ariel, Luna dan Cut Tari diduga terkait dengan video tersebut. Wajah-wajah mirip mereka muncul dalam video yang rata-rata berdurasi 8 menit itu.

The New York Times juga mewawancarai Tifatul. "Penyebaran video tersebut sangat mengkhawatirkan," kata Tifatul. "Saya pikir sekarang orang baru bisa memahami pentingnya UU Anti-Pornografi."

Ariel dan Luna, dua orang yang diduga ada di video itu menarik perhatian The New York Times karena keduanya pernah mewawancarai Menteri Luar Negeri Hillary Clinton saat di Indonesia pada 2009. Koran ini juga tertarik isu ini karena iklan sabun Lux yang dibintangi kedua orang tersebut juga ditarik Unilever Indonesia, produsen Lux.

The New York Times bahkan juga mewawancarai model dan artis yang kerap berpakaian seksi Julia Perez soal video porno mirip Ariel itu. "Kami melindungi diri dengan agama, kami melindungi diri denganbudaya, tapi masyarakat Indonesia harus membuka mata bahwa ada orang-orang yang mencintai seks, seks itu normal, seks itu kebutuhan."

Selain The New York Times, kasus video seks mirip Ariel-Luna ini juga dibahas di koran-koran Afrika Selatan. Wartawan Tempo Nurdin Saleh dari Johanessburg melaporkan Sebuah koran Afrika Selatan, Saturday Star, memuat berita soal skandal video seks Ariel Peter Pan dan Luna Maya. Berita tersebut dimuat di halaman 14 atau halaman belakang. (Baca juga: Berita Video Seks Ariel Sampai ke Afrika Selatan )


Video seks mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tary benar-benar telah mendunia.

http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/06/14/brk,20100614-254968,id.html

Sabtu, Juni 12, 2010

Video mesum Ariel dan Audi



Audy Bantah Masuk Dalam Daftar Video Porno Ariel. Pemberitaan di negri ini sedang di penuhi oleh kasus video porno Ariel dengan Luna Maya dan Ariel dengan Cut Tari yang merebak di masyarakat. Menurut rumor, selain dua video tersebut, masih ada 23 video porno Ariel bersama artis-artis lain. Nama penyanyi Audy Item pun masuk dalam rumor tersebut. Saya juga baru denger dari temen sih, itu hanya isu`, jelas Audy di temui di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (8/6).
Namanya dulu pernah di sebut-sebut pernah dekat dengan Ariel, namun Audy engaku dirinya hanya sebatas kenal sebagai musisi dan pernah main satu panggung.

`Mungkin karena saya pernah digosipin sama dia jadi nama saya keluar. Tapi sekali lagi ya, liat aja nanti`, ujar pelantun `Lama-lama Aku Bosan` ini.

Sebagai seorang teman Audy perihatin mendengar pemberitaan tersebut menimpa Ariel. `Saya sih prihatin. Mungkin dibalik ini ada orang jahat, karena ini memang masalah yang serius dan menyangkut banyak orang juga`, jelasnya.
Sumber : http://www.boleh.com/http://arexkediri.wordpress.com/2010/06/12/video-mesum-ariel-dan-audi/

Badan Ariel Menggigil Saat Diperiksa Polisi

Penyidik meminta dokter dari Mabes Polri untuk mendampingi Ariel.

Artis Nazril Irham alias Aril 'Peterpan' dan Luna Maya dimintai keterangan oleh penyidik Mabes Polri terkait beredarnya video porno mirip wajah keduanya. Namun, ketika menjalani pemeriksaan itu Aril dalam kondisi sakit."Kasihan dia, badannya panas mengigil," kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komjen Ito Sumardi ketika dihubungi, Sabtu 12 Juni 2010.

Dia mengatakan, karena kondisi Aril yang sedang sakit, maka penyidik meminta dokter dari Mabes Polri untuk mendampingi Ariel. "Kemarin didampingi dokter dari kami (Polri)," kata dia.Ito sendiri mengaku sempat menemui dan ngobrol dengan kedua artis tersebut di gedung Bareskrim Mabes Polri. "Tapi tidak sempat berbicara banyak," kata dia.Namun ketika ditanya, apakah kedua artis itu mengakui bahwa kedua pemeran dalam video porno itu adalah mereka, Ito enggan berkomentar. "Kalau itu, tanya saja ke penyidik. Saya kan Kabareskrim, masalah teknis itu yang tahu detil penyidik," kata dia. (http://www.vivanews.com/yahoo.com)

Skandal Seks dan Dosa Paus Benediktus XVI (2)


Dalam bagian pertama tulisan ini dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI mencoba menyelamat citra Gereja Katolik yang tercoreng. lagi-lagi karena kasus kekerasan dan pedofilia yang dilakukan sejumlah pendeta di balik dinding gereja. Paus ternyata tidak mampu menunjukkan sikap tegasnya terhadap pendeta yang memiliki perilaku menyimpang, bahkan sejak ia masih menjadi kardinal di Munich, kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta dianggapnya bukan masalah serius.

Ketika Gereja Menjadi Negara

Fakta bahwa skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendeta Katolik sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tak terbantahkan. "Yang menyedihkan, banyak penyelesaian kasus-kasus pelecehan seksual yang memakan waktu lama," kata "orang dalam" Vatikan yang tidak mau disebut namanya. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik tidak melaporkan saja para pendeta yang dituduh melakukan tindak kriminal itu ke aparat hukum sipil?

Tapi para pejabat Gereja membela diri dengan mengatakan bahwa semua kejahatan yang dituduhkan pada Gereja, sebenarnya adalah bagian dari persoalan sosial di masyarakat, dimana jarang sekali ada tuntutan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak.

Apapun pembelaan yang dilontarkan Gereja, realitas menunjukkan bahwa Gereja cenderung menutupi skandal-skandal seks yang terjadi di paroki-parokinya dan di panti-panti asuhan dimana anak-anak dipercayakan diasuh oleh Gereja. Dan tidak ada yang memiliki kecenderungan sistemik seperti itu, selain Gereja. Gereja betul-betul menghindari otoritas sipil, bahkan saat ini, ketika tekanan pada Vatikan begitu besar agar menyerahkan saja pendeta-pendeta bermasalah ke pengadilan sipil dan bukan pengadilan Gereja. Tapi sebagian pejabat Vatikan tetap bersikeras memegang teguh etos kuno Gereja Katolik.

Awal April kemarin, Uskup Agung yang dikenal eksentris, Dadeus Grings dari Porto Alegre, Brazil, pada surat kabar O Globo mengatakan, bahwa skandal seks para pendeta adalah masalah internal Gereja, bukan sesuatu yang harus dilaporkan ke polisi. "Akan terlihat aneh jika Gereja datang ke kantor polisi dan melaporkan anak sendiri," kata Grings memberi perumpamaan.

Pola pikir macam Grings sudah berurat akar dalam sejarah Gereja. Gereja memiliki hak prerogatif yang melampaui batas teritorialnya sejak berabad-abad yang lalu. Gereja Katolik mengklaim sebagai wakil Yesus Kristus di dunia, sebuah otoritas yang sangat berkuasa dan tidak mungkin berdosa, karena menjadi penerus Sang Juru Selamat. Para pejabat Gereja akan selalu memegang teguh doktrin, bahwa menjaga kekuasaan gereja, kesucian Paus tidak bisa hanya menciptakan "Kota Tuhan", tapi gereja juga harus punya kekuasaan di bumi, karenanya Gereja harus dilengkapi dengan divisi militer. Selanjutnya, Gereka paling tidak harus memegang kekuasaan pemerintahan sekuler. Gereja harus menjadi sebuah negara.

Ambisi Gereja itu menjadi begitu penting karena otoritas sekuler negara-negara yang berada di bawah kepausan di Italia, terus dilucuti oleh kerajaan Perancis dan Spanyol, Napoleon dan Garibaldi, Mussolini dan Hitler. Sejarawan bernama Melloni menyatakan bahwa Kepausan berhasil memanfaatkan situasi saat posisi Gereja lemah, untuk menarik simpati dari kalangan masyarakat yang masih beriman. Gereja menempatkan dirinya seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan pihak lain yang dianggap telah menggerogoti kekuasaan Gereja.

"Taktik Gereja itulah yang menimbulkan kembali sikap penghormatan kepada Paus," kata Melloni.

Taktik itu merupakan warisan selama 32 tahun kekuasaan Giovanni Maria Mastai-Ferretti, Paus Pius IX, tokoh yang pertama kali menggelar Konsili Dewan Gereja Vatikan yang pertama pada tahun 1869, yang mengakui kegagalan Gereja dan para tersangka yang dianggap bersalah dalam kegagalan itu mayoritas adalah para uskup. Selanjutnya, kekuasaan Gereja menjadi lebih terpusat dan mendominasi, dengan mengatasnamakan ketataaan pada kekuasaan Ilahi yang mutlak, birokrasi Vatikan dan Kuria Romawi. Bahkan ketika Paus kehilangan para divisinya, kerajaan Kristus yang berbasis di Roma membangun sebuah pemerintahan untuk menyaingi otoritas sipil di negara-negara dimana para pemuka agamanya bekerja hanya untuk melayani umat penganut agamanya. Gereja dan Katedral menjadi wakil Tuhan dan "utusannya" yaitu Paus, di negara-negara sekuler.

Dalam sistem seperti ini, setiap kecurigaan tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pendeta atau biarawati secara naluriah akan dilaporkan ke rantai komando gereja daripada dan bukan ke kantor kejaksaan-tindakan yang menurut Gereja dilarang oleh Tuhan. Kebijakan yang diberlakukan sampai ke tingkat paroki ini, dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Gereja, menghindari skandal dan untuk menjaga nama baik Geereja dengan cara apapun-kecenderungan ini makin buruk oleh kenyataan bahwa lembaga tinggi Gereja dijalankan oleh kumpulan lelaki yang berpengalaman dalam melakukan kecurangan. Pada kasus pedofilia, itu artinya yang diutamakan adalah kepentingan gereja dan para pendetanya, bukan kesejahteraan anak-anak yang dipercayakan diasuh oleh Gereja.

Menurut sumber Vatikan yang mengaku loyal kepada Paus, sebagai Kardinal Ratzinger, Paus tahu bagaimana bertindak dalam lingkungan Kuria berbahasa Italia, Bizantium, begitu ia tiba dari Jerman ke Roma pada tahun 1981. Dalam situasi dimana Paus Yohanes Paulus II ketika itu, tidak tertarik dalam masalah administrasi dan sering jauh dari kantor pusatnya di Vatikan, Ratzinger menjadi salah satu dari sedikit Kardinal yang saling bersaing untuk memberikan pengaruh terhadap pengelolaan Gereja. Ia terus mencari reputasi dalam pengambil keputusan yang penting dan prinsipil terutama dalam doktrin Gereja yang menjadi bidangnya, meskipun ia kurang transparan ketika menyangkut laporan memalukan terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh oleh para pendeta dan uskup. Tapi, kata seorang pengamat kawakan Vatikan, Ratzinger "tahu tempatnya berada dengan baik dan melihat banyak pisau panjang" dan dia tampaknya memilih bertempur dengan hati-hati.

Pada tahun 1995, Ratzinger berhasil memaksa pemecatan Kardinal Hans Hermann GroËr sebagai sebagai Uskup Agung di Wina. Tapi menurut surat kabar New York Times, Ratzinger melakukan itu tanpa perjuangan misalnya dengan membentuk tim komisi pencari fakta untuk menyelidiki kasus penganiayaan anak-anak yang dituduhkan pada GroËr. Ratzinger mengambil keuntungan dari situasi itu, setelah kasus penganiayaan itu berhasil diblokir--sehingga tidak menjadi pemberitaan panas--oleh sekretaris pribadi Yohanes Paulus II, Stanislaw Dziwisz (sekarang Uskup Agung Krakow) dan Menteri Luar Negeri Vatikan yang sangat kuar pengaruhnya, Kardinal Angelo Sodano (sekarang dekan di College of Cardinals). Ratzinger, akhirnya bisa menyaksikan mahasiswa dan sekaligus temannya Christoph SchÖnborn berhasil menggantikan GroËr sebagai Uskup Agung Wina.

Dikenal sebagai orang yang efisien, Ratzinger ternyata berpandangan picik. Dalam satu hal, ia bertekad untuk mempertahankan sumber daya manusia, yaitu para kardinal yang jumlahnya makin sedikit daripada menegakkan keadilan. Dalam kasus yang diungkap Associated Press bulan April kemarin, seorang pendeta yang merupakan anak hasil selingkuh, minta dipecat . Uskup lokal di Oakland, California, berulang kali mengirimkan surat ke kantor Ratzinger di Roma untuk membereskan prosedur permintaan pemecatan itu. Kasus ini diproses sangat lama, sampai pada tahun 1985 datang surat yang ditandatangani Kardinal yang isinya mengingatkan keuskupan Oakland " untuk mempertimbangkan kepentingan Gereja Universal" dan menunda permintaan pemecatan pendeta dengan alasan pendeta yang minta dipecat itu "masih berusia muda."


Para pembela Benediktus XVI beranggapan, bagaimanapun juga tidak adil jika Paus Benediktus diseret ke tengah skandal yang dilakukan para pendeta dan uskup Gereka Katolik. Sebelum terpilih menjadi Paus, Ratzinger dinilai berjasa dalam mengatasi krisis yang dialami Gereja sementara rekan-rekannya sesama Kardinal masih berusaha membersihkan Gereja dari aneka tuduhan. Memang, kebijakan Ratzinger, terutama setelah kantornya ditugaskan untuk mengawasi kasus-kasus besar pada tahun 2001, telah memberikan kontribusi sehingga ada penurunan jumlah kasus-kasus baru pelecehan seksual oleh para pendeta. Beberapa saat sebelum ia terpilih sebagai Paus, dalam khotbah Jumat Agung tahun 2005, Kardinal menegaskan tentang kebutuhan untuk "membersihkan kotoran" di kalangan pejabat gereja.

Begitu resmi diangkat sebagai Paus, dengan cepat Benediktus mengasingkan Pendeta Marcial Maciel Degollado ke sebuah biara dan disana ia hidup dalam penebusan dosa. Degodallo adalah orang yang cukup berpengaruh dan salah satu pendiri Legiun Kristus di Meksiko. Pendeta itu sudah lama mendapat perlindungan dari para pejabat Gereja, termasuk Yohanes Paulus II, terkait dengan sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Degollado.

Tiindakan Paus yang paling diingat orang adalah, ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008. Di AS Benediktus bertemu lima korban pelecehan seks yang dilakukan oleh pendeta di kedutaan besar Vatikan di Washington, sebuah pertemuan yang tak terduga dan lolos dari lpitan pers karena pertemuan dilakukan tanpa pemberitahuan, Peristiwa ini menunjukkan betapa berkuasanya Kepausan Benediktus, dan peristiwa itu terulang lagi dalam kunjungan Paus ke Australia dan Malta bulan April kemarin.

Tapi pada bulan Maret 2010, sejumlah wartawan Jerman berhasil mengungkap catatan yang mengancam reputasi Paus Benediktus. Catatan itu membeberkan bahwa pada tahun 1980 di Munich, Ratzinger--yang kemudian menjadi uskup agung--secara pribadi mengesahkan mutasi seorang pendeta yang berperilaku kejam, Peter Hullermann, dari Jerman ke keuskupannya dengan dalih untuk menjalani terapi. Tapi hanya beberapa hari setelah kedatangannya, pendeta itu diizinkan untuk melayani jamaah.

Hullermann sendiri, di kemudian hari, tepatnya tahun 1986, tersangkut sejumlah pelecehan seksual. Atas kasus Ratzinger-Hullermann, Vatikan menegaskan bahwa, seperti Uskup Agung lainnya, Ratzinger tidak bertanggung jawab atas penugasan para pendeta di paroki, termasuk para pendeta yang memiliki sejarah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap anak-anak. Namun Ratzinger adalah bintang yang bersinar - seorang filsuf yang religius dan brilian - telah mengambil posisi di jalur administrasi dan tinggal selangkah lagi melangkah ke Vatikan. Akhirnya tahun 1981, Ratzinger ditugaskan kembali ke Roma untuk bekerja di Gereja Vatikan.

Reputasi Ratzinger sebagai orang yang detail, membuat banyak orang sulit percaya bahwa Ratzinger tidak tahu apa-apa tentang Hullermann yang melakukan pelayanan Gereja, padahal pendeta itu bermasalah.. Paus tidak pernah menjelaslkan kasus ini secara eksplisit selama masa tugasnya. Tapi kalau dia hruas memuaskan para korban dan keluarga korban, ia harus melakukannya satu hari nanti.. Namun kenyataannya, seorang korban pelecehan seksual bernama Home yang bertemu Benediktus di Washington tahun 2008, mengatakan bahwa Benediktus menampakkan sikap yang terkejut sama sekali mendengar pengakuan korban.

Pada kesempatan itu, Home menuntut pertanggungjawaban penuh Vatikan atas kasus-kasus pelecehan seksual di masa lalu. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para korban lainnya tidak punya kepentingan untuk menumbangkan kekuasaan Benediktus. "Kami sedang meminta tanggung jawab moral dari Gereja," ujar Home. | Sumber: (http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/dari-gereja-menjadi-negara-dosa-paus-benediktus-xvi-bagian-2.htm/ln/Time)