Senin, Januari 26, 2009

Makan urab dipinggir rel, begini kalo akrab sama Israel

Makan urab dipinggiran rel… sampe malem , sambil santai
Kalau arab akrab ama Israel… pantesan diem lihat palestina di bantai….
Belum lepas dari ingatan kita, bagaimana keras kepala dan keras hatinya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza Palestina. Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Gaza sampai detik ini pun belum dan tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, mereka secara geografis termasuk yang dekat dengan Gaza, hanya karena terikat perjanjian dengan Israel – mereka tega membiarkan saudara-saudara muslimnya di Gaza terbantai oleh Zionis Israel. Setali tiga uang dengan Arab Saudi, ali-alih menunjukkan sikap yang tegas terhadap aksi holocaust Israel di Gaza, untuk menghadiri KTT di Doha pun mereka enggan.
Mungkin gambar-gambar dibawah ini bisa memberikan penjelasan atas sikap kepala batu nya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza.










Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush








Menlu Israel Tzipi Livni bersalaman mesra dengan Presiden Husni Mubarak (Mesir)







Mahmud Abbas (Fattah) berjabat tangan mesra dengan Menlu Israel Tzipi Livni





George Bush, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak saling mempersilahkan











Raja Abdullah (Saudi) bergandengan tangan akrab dengan George Bush










Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak















Raja Abdullah (Saudi) saling membalas cium dengan George Bush
Jadi wajar kalau para pemimpin Arab sangat 'banci' menghadapi Zionis Israel dan tidak tegas dalam menentang agresi dan holocaust yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Beginilah kalau pemimpin kita sudah terjangkit penyakit 'Al-Wahn', cinta dunia dan takut mati... Walau katanya Arab saudi bilang paling banyak nyumbang dinar ke Palestin, tapi ngebiarin dibunuh Yahudi2 keparat disana, sama aja bohong....
Kita berdoa bersama semoga para pemimpin Arab dan semua pemimpin Muslim terbuka hatinya melihat tragedi kemanusiaan ini. Dan semoga mereka tidak lupa dengan firman Allah SWT :
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin....."(Ali-Imran[3]:28)
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/beginilah-gaya-pemimpin-pemimpin-arab.htm
Tags: gayapemimpinarab
8 comments share



Inilah senjata2 yg Bikin Takut Israel...
Jan 14, '09 4:11 AM
for everyone
Untuk menghadapi peralatan perang milik Zionis Israel yang serba canggih, HAMAS dengan sayap militernya Brigade Izzuddin Al-Qassam 'hanya' mengandalkan senjata-senjata 'hand made' hasil modifikasi dari senjata-senjata yang sudah ada. Berikut peralatan tempur yang digunakan HAMAS dalam menyerang Israel :
Roket Al-Qassam
Al-Qassam-1, pertama kali diluncurkan terhadap sasaran Israel pada bulan Oktober 2001, telah mampu menjangkau jarak 3 kilometer. Pada tahun 2007, Al-Qassam-1 jangkauannya meningkat menjadi sekitar 10 km. Untuk sasaran jarak pendek diproduksi Al-Qassam-2 dengan berat 35 kg (77 lbs), memiliki diameter 115 mm dan berat 8 kg untuk hulu ledaknya, panjang 180 cm , dan mampu menjangkau jarak 6-7 kilometer . Juga diproduksi Qassam-2 yang digunakan untuk sasaran jarak jauh , dengan berat 50 kg (110 lbs), panjang 250 cm (sekitar 8 kaki), memiliki diameter 115 mm dan 8kg untuk hulu ledaknya, dan telah mampu mencapai maksimum jarak 10 km (6 miles) .
Hamas juga memproduksi sebuah model roket dengan mesin yang terpisah yang pada dasarnya adalah standar roket jenis Grad. Model mesin terpisah ini, pertama kali diluncurkan pada bulan Juni 2006, dengan berat 40-50 kg, (88-110 pounds), memiliki diameter 115 mm, hulu ledak dengan berat 10 kg, dan dapat menjangkau hingga jarak 10 km.
Al-Qassam-2 telah mampu menyerang masyarakat Israel dan aset-aset strategis Israel di dekat ke Jalur Gaza. Pada tanggal 28 Agustus 2003, Operasi Hamas di Jalur Gaza telah menembakkan roket Al-Qassam-2 ke bagian selatan kota pelabuhan Israel Ashkelon. Roket tersebut mendarat di dekat tempat pembuatan bir Carlsberg,dan nyaris menghancurkan pusat pembangkit listrik disana.
Pada bulan September 2005, Hamas melaporkan mengembangkan roket Al-Qassam dengan jangkauan 16,5 kilometer (10 mil) yang ditembakkan ke Ashkelon dari dari Jalur Gaza.
Pada Januari 2006, laporan media menunjukkan bahwa roket-roket Al-Qassam telah mampu menjangkau 10-40 kilometer (6-25 mil). Pada bulan Februari dan Maret, Jihad Islam mengembangkan roket yang berbasis pada roket Al-Qassam dan berhasilmenghancurkan tempat-tempat strategis di Ashkelon.
Pada bulan Juni 2006, Hamas menembakkan roket Al-Qassam yang dilengkapi dengan dua mesin.
Roket Al-Bana Al-Yassin (Roket Anti Tank)
Kedua roket ini diproduksi oleh HAMAS yang merupakan modifikasi rudal PG-2 Rusia yang mampu menghancurkan tank Merkava dalam radius 500 meter.
Roket Al-Batar
Roket anti tank Al-Batar dilengkapi dengan hulu ledak seberat 3,5 kilogram dan memiliki jangkauan lebih dari 3.000 meter (1,86 mil).
Roket Al-Samoud
Roket kaliber 120mm Al-Samoud memiliki jangkauan hingga 8 kilometer (4,97 mil).
Rayyan Roket Anti Serangan Udara
Pada bulan November 2004, HAMAS telah mengembangkan Rayyan roket anti Serangan Udara pertama di Palestina. Menurut salah satu komandan Brigade Al-Qassam, Nizar Rayan (yang telah syahid), roket ini mampu menjatuhkan helikopter Israel, UAV, dan pesawat-pesawat yang beroperasi di atas Jalur Gaza. Sumber HAMAS mengatakan proyek roket anti Serangan Udara ini didasarkan pada keahlian dan pelatihan yang diberikan oleh Iran dan Hizbullah. Hamas telah berusaha untuk menghasilkan varian dari roket asal Soviet SA-7 – yang digunakan oleh Hizbullah di Lebanon selatan.(fq/dr berbagai sumber)
Tags: rocketz
14 comments share




Setiap Muslim harusnya tahu sejarah ini...
Jan 13, '09 1:13 AM
for everyone


Sultan Abdul Hameed II
Pemimpin Khilafah Islam Terakhir







Kejayaan Islam di benua Eropa antara lain ditandai dengan berkembangnya wilayah kedaulatan Khilafah Usmaniah Turki. Selama berabad-abad, kerajaan Islam tersebut berhasil menancapkan pengaruhnya di Eropa Timur, Balkan, dan Mediterania. Seiring bergulirnya waktu, pengaruh itu berangsur pudar. Menjelang masa-masa kejatuhannya, muncul pemimpin Khilafah Usmaniah terakhir yakni Sultan Abdul Hamid II. Dengan segala daya yang ada, ia mencoba untuk terus mempertahankan dienul Islam di wilayah-wilayah kekuasaannya dari bahaya yang semakin mengancam, khususnya dari kekuatan Barat dan Yahudi.

Penuh konspirasi

Sultan Abdul Hamid II dilahirkan pada hari Rabu, 21 September 1842. Nama lengkapnya adalah Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan dan merupakan putra kedua Sultan Abdul Majid I (dari istri keduanya). Ibunya meninggal dunia sewaktu ia berusia tujuh tahun. Abdul Hamid sedari muda, sudah bisa berbahasa Turki, Arab, dan Parsi di samping mengetahui bahasa Prancis. Ia juga gemar mempelajari beberapa buah buku kesusastraan dan puisi.

Sewaktu orang tuanya, Sultan Abdul Majid meninggal dunia, pamannya, Abdul Aziz lantas diangkat menjadi Khalifah. Abdul Aziz tidak terlalu lama memegang jabatan Khalifah. Dia dipaksa berhenti dari jabatannya dan setelah itu dibunuh oleh musuh politik Usmaniah. Penggantinya adalah Sultan Murad, anak Sultan Abdul Aziz, namun dia pun disingkirkan dalam waktu yang singkat karena dianggap tidak layak. Pada tanggal 31 Agustus 1876, Sultan Abdul Hamid dilantik menjadi Khalifah menggantikan saudaranya, Murad V.

Umat memberikan baiat dan ketaatan kepadanya. Pada waktu itu, ia telah berumur 34 tahun. Dari tahun 1877 hingga tahun terakhir memerintah pada 1909, ia tinggal di Istana Yildiz. Abdul Hamid menyadari, seperti yang diungkap dalam catatan hariannya, tentang pembunuhan pamannya dan pergantian kepimpinan yang selalu disebabkan adanya konspirasi menentang Daulah Islamiah (Negara Islam). Para sejarawan mengkaji secara mendalam tentang perwatakan Abdul Hamid. Menurut mereka, Abdul Hamid mewarisi jabatan kepimpinan sebuah negara besar yang berada dalam keadaan tegang dan genting. Ia juga menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh tahun yang penuh dengan konspirasi, intrik, peperangan, revolusi, peristiwa-peristiwa dan perubahan-perubahan yang terus terjadi.

Awal sekularisasi

Abdul Hamid menuangkan perasaannya dalam hasil karya dan sajaknya. Di sini dipaparkan contoh sajak tulisannya yang telah diambil dari buku 'Ayahku Abdul Hamid', hasil karya anak perempuannya, Aisyah. Terjemahan sajaknya, ''Ya Tuhanku, aku mengetahui Engkau Yang Maha Esa (Al Aziz) dan tiada lain melainkan Engkau Yang Maha Esa, Engkaulah Yang Mana Esa dan tiada yang lain. Ya, Tuhanku pimpinlah aku dalam waktu yang sulit ini. Ya, Tuhanku jadilah penolongku dalam waktu yang genting ini.'' Cobaan pertama yang dihadapi Abdul Hamid adalah Midhat Pasha (1822-1885). Ada dugaan bahwa Midhat berasal dari kaum Yahudi Dunnama, sama seperti Mustafa Kamal.

Midhat Pasha terlibat secara rahasia dalam upaya penyingkiran pamannya, Abdul Aziz. Tidak lama setelah dilantik sebagai Khalifah, Abdul Hamid melantik Midhat Pasha sebagai ketua Majelis Menteri karena Midhat Pasha amat terkenal pada waktu itu. Abdul Hamid memerlukan jaminan agar pemerintahannya stabil. Midhat Pasha adalah gubernur yang cakap tetapi keras kepala. Sultan Abdul Aziz telah menjadi Khalifah dalam tahun 1861 dan disingkirkan dalam tahun 1876. Empat hari selepas disingkirkan, ia meninggal dunia. Ketika pemerintahan Abdul Aziz, banyak kemajuan telah dicapai. Pasukan Khilafah Usmaniah membuat persiapan untuk menjadi pasukan ketiga terkuat di dunia dengan kekuatan tentara darat mencapai 700,000 orang. Sultan Abdul Aziz juga melawat Mesir, Prancis, Inggris, dan Prusia.

Tujuan kunjungan itu ialah untuk mempengaruhi Perancis supaya berpihak kepada Daulah Usmaniyah dan supaya Prancis tidak berpihak kepada Rusia. Tujuan lainnya adalah untuk menghimpunkan negara-negara Eropa untuk menentang Rusia. Tidak lama kemudian, Inggris mengusulkan diadakan pertemuan di Istanbul yang dihadiri oleh para duta penguasa besar dengan tujuan untuk mewujudkan 'perdamaian' di Balkan. Kesepakatan pertemuan akhirnya memaksa Khilafah Usmaniah untuk melaksanakan beberapa reformasi. Maka, Midhat Pasha menjalankan reformasi-reformasi domestik tersebut. Termasuk di dalamnya pembentukan sebuah perlembagaan demokrasi dan undang-undang sekuler.

Dikepung negara besar

Undang-undang itu jelas bertentangan dengan Islam, yang jika dilaksanakan akan bermakna penghapusan sistem Khilafah dan berarti mewujudkan sebuah negara yang serupa dengan negara Eropa lain. Abdul Hamid, para ulama serta tokoh-tokoh Islam yang lain menentangnya. Khilafah menolak memenuhi desakan negara-negara besar. Inggris berusaha gigih untuk menghancurkan Khilafah dan mereka berusaha untuk mempastikan pelaksanaan perlembagaan sekuler yang didrafkan oleh Midhat Pasha. Untuk menghalangi niat jahat ini, Abdul Hamid mencoba mengurangi popularitas Midhat Pasha. Akhirnya dia berhasil melepaskan diri dari belenggu Midhat.

Midhat didakwa mengatur pembunuhan Sultan Abdul Aziz. Seterusnya Abdul Hamid mengalihkan perhatian terhadap musuh luar negara Daulah Islam Usmaniah. Melalui kebijaksanaannya, dia mampu meramalkan bahwa revolusi komunis akan terjadi di Rusia dan akan membuat Rusia lebih kuat dan lebih berbahaya. Pada waktu itu Balkan yang merupakan sebagian dari wilayah kekuasaan Daulah Islam Usmaniah sedang berhadapan dengan dua bahaya yaitu Rusia dan Austria.

Abdul Hamid berusaha membangkitkan penduduk Balkan dan menyadarkan mereka tentang bahaya yang bakal dihadapi. Ia hampir berhasil membuat perjanjian dengan negeri-negeri Balkan tetapi ketika perjanjian mencapai peringkat akhir, empat negeri Balkan mengambil keputusan lain dan menepikan Daulah Islam Usmaniah. Perubahan ini disebabkan pengaruh Barat dan Rusia. Abdul Hamid menyadari bahwa persekongkolan untuk memusnahkan Negara Islam Usmaniah lebih besar dari yang disangkakan.

Upaya itu melibatkan usaha dari dalam dan dari luar Negara Islam. Dari dalam, adalah Panglima Pasukan Awni Pasha yang mencoba menyeret Daulah Islam Usmaniah ke dalam kancah perang Bosnia tanpa persetujuan Abdul Hamid. Abdul Hamid mengetahui jika terjadi peperangan, maka Rusia, Inggris, Austria, Hungaria, Serbia Montenegro, Italia, dan Prancis akan menyerang kerajaan Usmaniah secara serentak dan memastikan Bosnia dirampas.

Kejatuhan Daulah Islam Usmaniah tinggal menunggu waktu. Semua pihak menginginkan sebagian darinya, tidak ketinggalan kaum Yahudi. Padahal orang-orang Yahudi yang menjadi warga Daulah Islamiah adalah pelarian dari negara-negara Eropa seperti Spanyol dan Portugal setelah pemerintah Islam di Andalus dikalahkan oleh tentera Kristen.

Pada tahun 1895/6, sebuah buku bertajuk Der Judenstaat (Negara Yahudi) karangan Dr Theodore Hertzl (1869-1904), seorang Zionis dari Hungaria, diterbitkan.

Dalam buku itu disebutkan bahwa kaum Yahudi harus memiliki negara sendiri. Oleh karenanya, Yahudi lantas mengadakan pertemuan pertama di Swiss pada 29-31 Agustus 1897 untuk meletakkan azas pembentukan negara Yahudi di Palestina. Usai persidangan itu, pergerakan Yahudi semakin aktif. Ini menyebabkan Sultan Abdul Hamid mengeluarkan keputusan tahun 1900 untuk tidak membenarkan orang-orang Yahudi yang datang ke Palestina dan tinggal lebih dari tiga bulan.

Segala cara dilakukan kaum Yahudi untuk membujuk Sultan Hamid membatalkan keputusannya. Termasuk dengan menawarkan sejumlah kompensasi dan berbagai janji lainnya. Abdul Hamid enggan menerima tawaran tersebut. Ia mengirimkan jawaban kepada mereka melalui Tahsin Pasha: ''Katakan kepada Yahudi biadab itu, utang negara Usmaniah bukan sesuatu yang memalukan. Prancis menpunyai utang dan itu tidak menyengsarakannya.

Al-Quds (Jerusalem) menjadi bagian dari tanah Islam sewaktu Umar bin Al-Khattab menaklukkan kota itu dan aku tidak akan mencatat sejarah yang memalukan dengan menjual Tanah Suci kepada Yahudi dan mengkhianati kepercayaan rakyat.'' Tahun 1901, Abdul Hamid mengeluarkan perintah melarang tanah di Palestina dijual kepada Yahudi.

Tindakan Abdul Hamid ini sesuai sabda Rasulullah SAW: ''Imam adalah perisai (pelindung) yang dibelakangnya kamu berperang dan mendapat perlindungan.'' Dengan keikutsertaan Yahudi dan Zionis dalam konflik, maka barisan musuh Islam semakin kuat. Yahudi akhirnya meminta bantuan Inggris untuk mewujudkan impian mereka. Setelah Abdul Hamid II digulingkan pada 13 Maret 1909 maka pembentukan negara Yahudi di Palestina semakin dekat. Inggris kemudian melancarkan serangan terhadap Khilafah Usmaniyah dan ini menjadi sebab kejatuhannya. Tahun 1918, Sultan Abdul Hamid II meninggal dunia.

Semoga tidak terdapat kekeliruan, dan tulisan ini dapat bermanfaat, insyaAllah...

Wassalamu'alaikum wr.wb.

sumber http://islammenjawab.multiply.com/journal/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah semau anda, tentunya yang sopan dan teratur (tidak menjurus ke maksiatan/kata2 kasar).....!!