
DEMAM BOLA ...! PETANI PUN MAIN BOLA DENGAN RUMPUT DI
GULUNG-GULUNG, BERGAWANG CANKULPUN TAK MASALAH.
Kalangan petani di Dusun Gledeg, Podosuko, Candimulyo mempunyai cara unik memanfaatkan waktu luang. Mereka menggunakan lahan sawah untuk sepakbola. Olah badan dan kemahiran ini juga tidak lepas dari demam Piala Dunia 2010.
Sepakbola yang dilakuan para petani di Gledeg menggunakan sawah yang sedang dikeringkan. Sebelum diolah lagi untuk ditanami. Bola yang digunakan dari sabut kelapa yang ditali dengan nilon. Gawangnya menggunakan cangkul.
Karena dilakukan usai bercocok tanam atau mengolah lahan, sepakbola ala Gledeg ini hanya dimainkan 2x20 menit. Pemainnya tidak 11 orang. Melainkan sesuai jumlah petani yang ada, kemudian dibagi dua tim. Seringnya antara 4-6 orang per tim. “Kami biasa memainkan sepakbola ini dengan lima orang. Maklum, ini sekadar hiburan setelah lelah mengolah sawah,” kata Rizal, 20 tahun, salah seorang Petani Gledeg, kemarin.
Seperti siang kemarin, usai menggarap sawah, tim yang dipimpin Rizal berhadapan dengan Sutrisno dengan empat kawannya. Mereka bertanding di sawah milik Kadus Gledek, Kabul HS. Tidak jauh dari Sekolah Pertanian Lapangan Podosuko.
Jarak antartiang gawang sengaja dibuat hanya sekitar 2 meter. Agar tidak terlalu lebar, daerah yang harus dijaga oleh kiper. Sehingga diharapkan kiper bisa ikut maju menyerang. “Kipernya ikut maju. Gawangnya dijaga kalau ada penalti,” pinta Edi Wasono yang saat itu bertindak sebagai wasit.
Meski bertanding di lapangan bertanah lembek, karena masih dikeringkan tidak menghalangi semangat mereka. Kadang laju bola terhalang potongan tanaman padi yang masih berdiri tegak. Potongan tanaman ini juga sering kali merepotkan lari para pemain. “Ya ini seninya main sepakbola di sawah, serba repot,” ungkap Sutrisno.
Kecilnya lapangan dan bentuknya yang tidak persis persegi panjang membuat permainan menjadi menarik. Karena pemain terlihat bergerombol dan kesulitan bergerak. Ditambah ukuran bola yang terlalu kecil, membuat sulit untuk digiring.
Paling menarik saat pemain harus menyundul bola. Karena mereka rata-rata memakai caping yang lebar, saat menyundul membuat topi tersebut sering terlepas. Juga saat lari menggiring bola atau mencari posisi.
Menurut salah seorang tokoh pemuda Gledek, sepakbola tersebut sudah turun-temurun berkembang di wilayahnya. “Hanya saja, ini jadi menarik dan popuer lagi karena ada demam piala dunia,” tandasnya.
sumber| http://www.radarjogja.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah semau anda, tentunya yang sopan dan teratur (tidak menjurus ke maksiatan/kata2 kasar).....!!